Cerita dengan Mas Seno
hanya berjalan 1,5 tahun saja, ternyata bibit bebet bobot di
keluarganya begitu kuat mengakar yang membuat aku memilih mundur untuk
sebuah harga diri. “Maaf ya Nak, Mas Seno itu anak laki-laki kami
satu-satunya di keluarga besar Randen Mas Arya Subroto. Jadi kalo Nak
Zee ingin masuk dikeluarga besar kami, Nak Zee harus memiliki kriteria
bibit bebet dan bobot yang telah ditentukan dari sejak jaman
eyang-eyangnya Mas Seno. Bukan salah kami loh kalo diperjalanan kisah
kalian nanti berujung sesuatu yang tidak diinginkan, toh sekuat apapun
Mas Seno mempertahankan kamu. Ia takkan kuat melawan desakan keluarga
besarnya. Jadi saya selaku Bude’ utusan Orang tuan Mas Seno meminta
kerelaan dan keikhlasan Nak Zee tuk menjauhi Mas Seno demi kebahagian
keluarga besar kami. Mas Seno sudah ditunangkan dengan keluarga
keturunan ningrat sejak kuliah dulu. Biasanya dia anak yang penurut Nak
Zee, tapi hanya karena ingin mempertahankan kamu, ia rela bersitegang
dengan orang tua dan keluarga besarnya. Kasihan Ibunya sakit-sakitan di
Jawa sana makanya Bude’ diutus untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan
Mas Seno. Waktu pernikahan yang disiapkan sudah dekat tinggal 6 bulan
lagi Nak, dan tidak mungkin pertunangan itu dibatalkan sepihak, karena
hal itu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, menunggu masa bakti
penugasan Mas Seno sebagai dokter puskesmas selesai”, nada suara
dari seorang perempuan anggun setengah baya pun mengalun lembut
menghujam tepat didetak jantungku hingga membuatku semakin sulit
bernafas.
Ya Tuhan, sesulit inikan jalanku menemui
kebahagiaan. Kakiku lemas tak bertenaga dan akhirnya aku jatuh terkulai
dilantai restoran itu. Perlahan, kubuka mataku, sakit sekali kepalaku,
perlahan kulirik wajah lembut setengah baya yang duduk disamping sofa
panjang yang ada di restoran itu.
“Saya sangat mencintai Mas
Seno, Saya sangat ingin hidup berdua dengannya. Buuuu... maafkan diriku
untuk keinginan-keinginan itu. Mas Seno adalah lelaki impian masa
kecilku semua yang kucari ada padanya. Saya sangat ingin memilikinya,
Bu.. Sampaikan salam hormatku pada keluarga besar RM. Arya Subroto,
katakan pada mereka tidak perlu khawatir mendapatkan halangan dariku.
Saya menyayanginya hingga tak ingin melihat Mas Seno berubah menjadi
sebagai sosok lelaki jahat yang ingkar pada janjinya dan durhaka kepada
orang tuanya. Meski saya bukan berasal dari keturunan ningrat seperti
keluarga besar Ibu, tapi diriku juga anak seorang Ibu, yang tahu rasanya
sedih jika harus kehilangan cinta seorang Ibu dan kasih sayang
keluarga sederhanaku. Beri saya sedikit waktu tuk mengembalikan Mas
Seno kalian,” ucapku terdengar lirih berusaha menahan emosi.
Aku
takkan menangis, mungkin sejenak aku kan kehilangan senyumku, tapi ini
bukanlah “sebuah pengorbanan” bukankah senyumku kan tergantikan oleh
banyak senyuman keluarga besar RM Arya Subroto dan lainnya. Cukup
kukenang Mas Seno sebagai sosok lelaki idaman yang pernah kunikmati
hari-hari bersamanya meski sekejab saja. Terima kasih Tuhan, karena
telah membuktikan kepadaku, bahwa ternyata Lelaki impian masa kecilku
yang tampan, santun, baik hati, cerdas, penyayang keluarga, teman
diskusi yang handal dan ramah, sosoknya memang nyata, meski akhirnya ia
tidak dipersembahkan untukku.
Mas Seno yang baik,
maafkan Zee atas keputusan yang tlah kubuat. Aku tahu kita kan sanggup
menghadapi tantangan-tantangan jika kita berdua bersatu kelak. Tapi Aku
memilih mundur demi sebuah janji pertunangan yang lebih dulu Mas
torehkan sebelum hadirnya diriku. Aku takut rasa ini kuat karena
kebersamaan kita di tanah rantau, tapi kelak kan melemah seiring dengan
cinta yang sengaja kita lemahkan kepada orang tua dan keluarga yang
lebih dulu mengenal kita. Mungkin aku sanggup menghadapi penolakan,
hinaan, cacian bahkan makian sekaligus dari keluarga besar Mas, tapi aku
belum sanggup melihat keluargaku menanggung hal sebesar itu. Aku takut
jika suatu saat diriku menemukan kecacatan dan kelemahan atas sosok
sempurnamu yang saat ini kudapati, ditambah hantaman penolakan keluarga
besarmu terhadap keluargaku yang membuat penderitaan dimasing-masing
pihak, kan membuatku kehilangan kekagumanku padamu. Biarlah dirimu kan
terus menjadi sosok yang sempurna dimataku sesempurna sosok impian masa
kecilku. Kembalilah ke tunangan dan keluarga besarmu, karena kasih
seorang Ibu takkan pernah tergantikan oleh kasih seorang Zee. Maafkan
Zee Mas, keputusan sepihak ini kubuat demi kebahagian banyak pihak bukan
hanya dua orang saja. Zee berharap pertemuan kita yang diawali salam
"selamat datang" secara baik-baik, kan diakhiri dengan salam perpisahan
dengan cara yang baik pula.
Dilipatnya
kertas yang disodorkan Zee kepadanya seusai makan malam mereka.
Direngkuhnya Zee dalam-dalam seolah tak ingin melepaskan gadis manis
didepannya ini, dikecupnya kening Zee seraya berucap,”Zee.. katakan
apa saja syarat yang kamu inginkan tuk mengubah keputusanmu. Mas akan
penuhi apapun itu, Mas tak sanggup kehilangan kamu. Hidup Mas bahagia
dengan kehadirannya Zee... Please, jangan membuat Mas Kehilangan kamu
Yank”. Suaranya terdengar parau menahan isak yang tertahan didada.
Baru kali ini Zee melihat sudut mata Mas Zeno membulirkan tetesan air .
“Mas
Seno, jangan membuat Zee bimbang lagi ya... ketahuilah Zee nda sanggup
mengucapkannya langsung makanya Zee tulis semuanya di surat itu.
Terima kasih telah pernah mengisi hari-hari Zee dengan kisah bahagia.
Sayangnya Zee besar ke Mas Seno, tapi Cinta Ibu dan keluarga Mas Seno
jauh lebih besar dari punya Zee. Cintanya Zee takkan pernah kuat
bersaing dengan cinta mereka yang telah bertahun-tahun mengisi hidup
Mas Seno hingga Mas kini bisa menjadi sosok yang pantas Zee sayangi dan
kagumi. Jangan rusak hati yang Mas Seno miliki hanya karena sebuah
keegoisan semata-mata tuk memiliki Zee dan mengabaikan keluarga besar
Mas. Jika Mas Seno sanggup memadamkan rasa cinta kepada orang-orang
yang telah bertahun-tahun mencintai Mas Seno dalam keadaan apapun
hingga kini, bukan mustahil kan kalo suatu saat Mas sanggup melakukan
hal yang sama terhadap cinta Zee yang belum teruji oleh waktu dan
keadaan,” ucap Zee sembari memegang kedua tangan Mas Seno yang
mengepal kuat saling menggenggam menahan rasa amarah berbaur kesedihan
yang teramat dalam. Hari itu adalah malam terakhir diri Zee bertemu
dengan Mas Seno, karena esoknya ia harus beranjak pergi dari kampung
itu, meninggalkan Mas Seno, melepaskan sejenak kerjaan dan
impian-impiannya. Saatnya memulai sesuatu yang baru, saat ini aku hanya
butuh waktu sendiri tuk menenangkan diriku.
CLOSED.
Kubaca tulisan dipintu sebuah toko saat ku berada di dalam taxi bandara
yang membawaku menuju rumah orang tuaku, setelah hampir sebulan lebih
mengasingkan diri ke tempat teman di Lombok tuk menghindari Mas Seno.
Begitulah kisahku dengan Mas Seno, yang akhirnya terpaksa menyerah
berjuang mengubah keputusan bulatku, saat mendengar kabar dari tanah
Jawa jika Ibunya tiba-tiba harus dirawat lagi di UGD akibat penyakit
jantungnya. Ku langkahkan kakiku menyusuri gang kediamanku, kupeluk
Ayah dan Ibuku yang semakin terlihat menua oleh waktu. Kuciumi tangan
dan pipi mereka sembari membathin, “Maafkan Zee ya Pa.. Ma, karena sampai saat ini Zee belum bisa memenuhi kebahagiaankalian tuk melihat Zee duduk di pelaminan”.
Selanjutnya Mama membelai rambutku dengan lembut, seraya memberikan gerakan tuk menuju Meja makan,” Mama dah masak makanan kesukaanmu Zee”. Ditatapnya wajah anak sulungnya seraya berkata,”
Zee kamu terlihat kuyu dan letih, jangan terlalu memaksakan dirimu
bekerja keras, istirahat dan jangan lupa makan saat waktunya tiba. Zee..
jangan pernah lari dari masalahmu Nak, hadapi dan temukan jalan
keluarnya secara baik-baik.. Nak Seto sudah berkali-kali menelpon dan
datang mencarimu Nak”.
Ditatapnya Mamanya dengan lembut berucap, “Maaaa...
Zee baik-baik saja, masalahnya dah Zee dan Mas Seno sepakati
penyelesaiannya. Mungkin Mas Seno memang bukan jodohnya Zee”.
Hatinya
tiba-tiba kosong dan hambar, saat-saat seperti inilah Zee selalu
kangen sosok Joe yang kocak mengibur dirinya yang dilanda sedih. “Jontooooor, Zee butuh dada non empukmu, Zee pengen nangis dan makan sambel yang buanyaaaaak kayak dulu”,
ucap Zee menahan tangis. Zee nda pengen Joe berubah koq, karna Zee
sayang chassing Joe yang urakan, terlihat cuek seenaknya, kurang
beribawa, tetapi contentnya yang sederhana, religius, humoris ditambah
ketegasan2mu diiringi dengan celetukan-celetukan celaanmu yang selalu
mampu mengimbangi kejutekan, sifat manja, cengeng, becanda ala PMnya
Zee, bahkan emosi Zee yang sering meledak-ledak.
Ditatapnya
sebuah foto momen kebersamaannya bersama Jo dulu, saat dirinya belum
menjadi milik seorang perawat yang mengurusinya sewaktu ia sakit parah
dulu di tanah borneo. Menurut cerita Ibunya Bejo, perempuan itulah yang
merawatnya, memasakkan, mencucikan pakaiannya hingga yang telah ternoda
besar dan kecilnya Joe, meyetrikan bahkan membersihkan kamar kos-kosan
Joe selama ia dirawat di RS. Ia memang pantas mendampingi kamu Joe,
aku tak perlu khawatir lagi karena kini kamu berada ditangan yang
tepat.
Teringat saat, setelah sekian lamanya komunikasi mereka berdua putus, dan tiba-tiba Joe mengabarinya.
“Zee,
iwilku yang baik hati dan rada-rada jutek... hehehe... Aku mo ijin
pacaran nech tapi aku nda mau lama-lama mo langsung nikah aja, kan dulu
katanya harus melapor dulu ma Bu Hansip yang galak biar jalannya
lancar. Abis aku ajakin kamu nikah, ditolak mentah-mentah... Lupa bawa
kompor ya Joe jadi lupa dimasak dulu, padahalkan aku pengen suatu saat
kamu masakin makanan yang rasanya asin dan amburadul, pengen sesekali
kamu pijetin saat sakit, pengen jadi imammu, kan ada alasan wajib
menegur kamu saat bangun paginya telat tuk Subuhan bareng, jewerin
kuping kamu saat mulai malas menunda-nunda sholat, Zee aku pengen kamu
yang milihin dan nyediain baju kalo mo ke kantor, lagian kan aku bisa
punya anak-anak cantik kayak kamu dan gantengnya kayak aku.. Hehehe..
Mau ya??? Jadi aku dan kamu bisa setiap ada saat salah satu dari kita
membutuhkan dada seseorang kala kita bersedih. Zee.. mau ya nikahin
aku,” pinta Jo dengan nada candanya tetapi keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
“Jooooontoooorrrr,
masa’ aku menikah ma anak kecil putih abu-abu... Hehehe... kamu tuch
mencari istri apa nyari pembantu Joe, yang bisa kamu suruh kayak gini
dan gitu, nda mau ah, masa aku menikah ma orang urakan kayak kamu, yang
hobbynya nda mandi.. Apa hasilnya anakku nanti?? Jooooooo... jangan
becanda ah, bisa sech aku kabulkan permintaanmu dengan syarat : Dadamu
kudu dioperasi dulu biar empuk, enak aja kamu bersandar di tempat yang
empuk sementara diriku kan tersiksa oleh ukiran tulang dadamu...
Hahahaha.. btw siapa gadis yang rela berkorban seumur hidup itu Jo???,”
ucap Zee berusaha terdengar wajar, seketika matanya memerah dengan
sendirinya, koq tiba-tiba ada sesuatu yang perih didalam sana mendengar
Joe ingin menjalin kasih dengan gadis lain.
"Zee...
please aku kan bukan anak putih abu-abu lagi, nda liat apa kumis tipis
yang menghiasi wajah gantengku, aku kan sekarang dah rajin mandi bahkan
aku sekarang 2 kali sehari. Lah kalo syaratnya kudu mesti operasi, apa
kata dunia??.. Zee, ijinkan aku membuktikan kepadamu wahai nenek lampir
cantikku.. He3,” balas Joe dengan penuh pengharapan.
“iya 2 kali ganti hari mandinya baru sekali... hehehe... Jonntoooor, jadi mo dikemanain Mas Seno gantengku itu,” balas Zee tidak kalah gesitnya.
“Alasaaaaaann...
dari sebelum ada Mas Seno juga jawabannya tetapa sama, Joe.. kita kan
sahabat. Jangan pernah merusak semuanya demi rasa egois tuk memiliki
satu sama lain. Biarkan saja ia begini adanya. Kan banyak Persahabatan
yang umurnya lebih langgeng dibanding umur pernikahan. Belum pernah ada
kan sahabat yang bercerai mempeributkan harta gono gini kayak
perceraian artis-artis. Zee... Zee.. andaikan bisa mengajukan proposal
kepada Tuhan tuk bisa mengubahku menjadi sosok yang berperawakan
tinggi, berdada bidang, rapi, punya banyak duit, keluaran universitas
ternama, memiliki retorika yang handal bak diplomat ulung, memiliki
otak encer yang bisa menampung isi satu perpustakaan, beribawa.. Aku
akan melakukannya untukmu Zee.. tapi apa dayaku.. takdirku berada pada
sosok urakan kayak gini... Hehehe... makanya usaha terakhirku saat ini
hanya meminta restu darimu tuk kelak menikahi pacarku ini. Ingat ya
Zee, aku takkan pernah berubah untukmu, ku kan slalu ada tuk sobat
terbaikku. Semoga kamu dan Mas Senomu bahagia, jika kelak kita tak
berjodoh siapa tahu anak-anak kita yang berjodoh.. Hahaha,”ujar Joe sengaja memancing kejutekan Zee.
“Jooooontooooorrr,
Ibunya aja nda mau, pa lagi anaknya yang kan lebih cakep keturunan
Papanya,,, Weikzzzz... Mat Menempuh hidup baru ya Joe. Sampaikan salamku
buat sustermu, titip pesanku tuk banyak bersabar dan beristigfar aja
sepanjang hidup mendampingi kamu... Hehehe.” Balas Zee tak mau kalah.
“Zee... Muachhhh... terima salam tempelku ya titip buat jidad Nong Nong mu yang aduhai..”,
ucapan terakhir Joe yang nda sempat dibalas Zee, karna keburu ditutupin
telepon dari Borneo sana. Dasar anak urakan, anak hutan belantara.
Hikshikshiks. Matanya semakin berkaca-kaca entah mengapa seketika merasa
kehilangan sesuatu yang sangat berharga, meski kelak kau mengijinkan
aku tuk bisa 24 jam kamu ada untukku, tapi aku pasti takkan bisa
nyelonong sebebas dulu lagi, menghubungi dirimu dan berbagi kisah
denganmu. Jontoooooorrrr.... aku kan kehilangan dirimu dan kangen non
empukmu itu, lagian rasanya pasti tidak nyaman lagi berada diukiran
tulang dada yang nda empuk ditambah tulisan “Milik Suster Perawat” kayak
sapi-sapi yang dijual di Hari Raya Kurban.
Ternyata
benar kata orang jika waktu kan mengobati rasa sedih kehilangan sesuatu.
Setahun sudah pernikahan Mas Seno dilaksanakan, terakhir sebelum hari
H, ia sempat menelpon aku dan meminta maaf atas keputusannya tuk
menyerah pada keputusan bulatku dan pinta Ibu tersayangnya, hampir sejam
kami mengobrol seperti tak pernah terjadi apa-apa, bahkan Budenya
ikutan nimbrung sesaat mengucapkan terima kasihnya padaku. Ah, sungguh
kesedihan yang akhirnya melegakan banyak pihak. Ah.. kenapa tiba-tiba,
aku kangen si Jo yang dah hampir 2 tahun ini telah dicap “MILIK SUSTER
PERAWAT” dikulit dekilnya, Hehehe... apa kabarnya ya dia sekarang???...
Joe
aku sebenarnya pengen nelponin kamu, tapi aku sadar diri Joe meski
engkau sobatku tapi kamu dah menjadi suami orang lain, membuat komitmen
dengannya. Sungguh rasa sakitnya kehilangan kamu, ternyata lebih perih
dibandingkan saat kukehilangan Mas Seno dan pacar-pacarku yang dulu.
Apakah ada persahabatan dua jenis kelamin yang berbeda yang kan berakhir
kekal seperti persahabatan sejenis???
Kuch
Kuch Hota He, menjadi saksi sebuah kisah persahabatan dua jenis, yang
menggambarkan bahwa suatu saat nanti Persahabatan dua jenis kan
menimbulkan rasa egois "salah satu pihak" tuk saling memiliki, hingga
akhirnya menimbukan perpisahan saat salah satunya lebih memilih
mencintai orang lain. Meski tak jarang keduanya berakhir di pelaminan.
Entah
disengaja atau tidak kelak kan ada tembok penghalang yang terbangun
sedikit demi sedikit diantara mereka seperti diriku dan Joe saat ini.Ah,
susahnya memiliki sahabat seorang pria... bathin Zee... kadang kala
iri juga melihat persahabatan Dija dengan Susan, bahkan terlihat
semakin lengket saat keduanya memiliki pasangan. Tak tanggung- tanggung
bahan gosipnya kini semakin bertambah mulai dari harga sayur, cara
mengasuh anak hingga kelakuan suami-suami mereka..Arrrgghhhhhh...
Jontoooooorrr kenapa sech kamu mesti berkumis.
Pesawatku
baru saja mendarat di kampung halamanku. Kangen berlebaran dengan Ibu,
Bapak dan adik-adikku. Sesaat, taxi berhenti pas di gang rumahku,
kulangkahkan kakiku dengan cepat berharap segera berjumpa Ibu. Aku
kangen beliau, hubunganku dengannya semakin dekat setelah peristiwa
perpisahanku dengan Mas Seno. Kini beliau selalu menjadi tempat curahan
kisah sedih dan senangku saat tak ada lagi teman berbagi. Ah, ternyata
belaian jemari mengusap kepalaku mampu menenangkanku saat ku gundah dan
sedih. Makanya aku selalu kan kangen bertemu dengan beliau, Bapakku
dan adik-adik serta seorang ponakanku yang masih bayi, anak adikku yang
menikah setahun lalu.
“Suit.. Suit.. ada gadis
Cantik berjidad Nong Nong bertampang jutek lewat, liat cayank kalo
gede nanti hati-hati ya ama Mertua jenis kayak yang barusan lewat..
Hehehe...”, tiba-tiba terdengar suara tak asing ditelinga Zee.
Jantungnya seketika berdegup kencang tak karuan. Ya Allah, tolong
tenangkan diriku jangan biarkan aku berkhayal lagi seolah-oleh
mendengar suaranya. Cukup sudah, aku mengaku kalah..
Aku
bukan Zee yang tangguh setangguh batu karang, atau Zee yang tegar
setegar rumput liar, Aku hanya seorang Zee wanita biasa yang belajar
menerima keadaanku bahwa dibalik chassingku yang tomboy dan jutek, ada
sosok Zee yang cengeng dan manja. Dipercepatnya lagi langkah kakinya
sementara matanya lurus kedepan berusaha menghindari kalo saja ada orang
yang melihat tingkah anehnya.
“Iwiiiiilllllll... ternyata jutekmu itu tak kamu buang dilaut ya saat perjalanan ke sini... Hehehe”,
suara itu terdengar lagi. Zee menghentikan langkahnya mencari sumber
suara yang berasal dari halaman sebuah rumah yang selalu saja aku
hindari tuk menguburkan kenangan masa lalu bersama sahabatku. Ya, dari
rumah Bejo anak putih abu-abu yang urakan dan jarang mandi itu.
Dihentikannya
langkah kakinya, lalu badannya diarahkan memutar balik ke belakang
menuju rumah Joe, lalu matanya terkesima saat menangkap sesosok lelaki
berdandan rapi, mengenakan kaos putih bercelana jins yang tidak belel
seperti dahulu kala, badannya terlihat tegap akibat badannya tak lagi
cungkring dan agak berisi. Potongan rambutnya kini rapi dan ia terlihat
bersih persis seperti abis keluar dari ketok magic dan salon mobil eh
salah.. Sekolah kepribadian ternama.
“Jontooooooooorrrrrrr.... rupanya kamu pulang lebaran disini juga ya,” tiba-tiba
ia menjerit kegirangan dan tanpa sadar mencubit-cubit pipi Joe seperti
dahulu kala. Zee kemudian tersadarkan bahwa dipelukan Joe ada sesosok
bayi lelaki mungil yang ganteng. Oh iya Joe kan dah jadi ayah sekarang,
apa ia anak Joe ya. Matanya menangkap kemiripan dikeduanya, tak salah
lagi bayi mungil itu anaknya Joe, buktinya ia memiliki senyum manisnya
Joe.
“Ternyata kamu berhasil memperbaiki keturunanmu Joe, cakeeeeppp. Pasti gen Mamanya lebih kuat dari punyamu Joe.. hehehe,” ucap Zee sambil memindahkan bayi mungil itu ke gendongannya. “Hai
anak yang cakep, jika saja dulu aku tak membiarkan gengsiku
mengalahkan rasa sayangku ke Ayahmu, mungkin saat ini kamu kan
memanggilku Mama dan bukan Tante Zee,” Bathinku memeluk mesra anak
Joe. Tahukah kamu hanya dengan memelukmu adalah cara Tante tuk kembali
merasakan ketenangan seperti saat didalam pelukan Ayahmu dulu.
Sungguh, penyesalan datangnya akhir.
“Siapa dulu dong
Ayahnya.. Joe anak putih abu-abu paling ganteng segang ini yang kini
berlari pesat meninggalkan si senior manisnya yang jutek lagi iwil...
Hehehe... Kamu berubah bertambah dewasa dan lebih feminim Zee, semakin
cantik tapi aku selalu kangen dengan ransel, sepatu kets dan celana
jins sobek-sobekmu. Rasanya itu lebih pantas menemani suara tawa
terbahak-bahakmu yang cempreng itu dan jalan maskulinmu.. Aku kangen
kamu Zee,” bisik Joe tiba-tiba disampingnya.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara,“Ayaaaahh, tamunya jangan dianggurin diluar dong sayang, mari masuk ke dalam mba”,
terdengar suara sosok wanita cantik dari arah pintu, tersenyum dan
melambai. Mba????... Apa aku sudah terlihat begitu sangat tuanya. Dasar,
mentang-mentang dirimu lebih muda, anggun dan feminim. Ia pasti
istrinya Joe, ihhh.. ternyata aslinya lebih cantik dari fotonya.
“Kenalkan Ma, ini Zee sobat baikku yang sering Ayah ceritakan itu loh,” jawab Joe sambil memeluk mesra pinggul istrinya sambil mengedipkan matanya dengan nakal kearahku.
“Saya Gusti Cherryl Meyza Thomson,”ujarnya
sambil menyodorkan jari-jari tangan lentiknya yang putih nan mulus.
Nama dan wajah yang indah khas anak peranakan banjar keturunan Inggris. “Saya Zainab”,
Kubalas jabatan tangannya, warna yang sungguh mencolok dibandingkan
kulit sawo matangku. Rasanya seperti jatuh, tertimpa tangga dan
diketawain orang sekampung. Hikshikshiks. Jangan Menangis Zee, kamu
telah bisa melewati banyak hal dalam hidupmu, masa menghadapi wanita
ramping bak model, cantik, lembut, dan keibuan seperti Meyza kamu
terlihat rapuh dan tak ternilai. Ayo angkat kopermu, cepat-cepat pergi
dari situasi ini. Saatnya menenangkan bathin.
“Maaf ya
Meyza.. Joe.. dan sikecil siapa namamu ya ganteng??... Tante Zee harus
pergi dulu, kapan-kapan Tante kemari lagi ya. Permisi,
Assalamualaikum”, terdengar suara Zee agak serak menahan sesuatu yang mendesak tuk keluar. Jangan sekarang. Please.. pinta Zee pada dirinya.
“Waalaikumsalam
Tante Zee. Nama saya Zainal, terdengar sangat kampungan ya tante...
tapi kata Mama itu pemberian wajib Ayah tuk nama anak lelaki pertamanya
dan Jezee tuk anak perempuannya saat Mama hamil dulu”, terdengar
suara bernada cemburu sedikit jutek dari Meyza, mencoba menjawab
pertanyaan yang basa-basi kutanyakan pada bayi mungilnya.
“Ahhh...
Mama.. jangan bongkar rahasia gitu dong sayang... nama anak kita
jangan kamu beberin ke Zee, bisa-bisa nanti ia nyontek nama indah anak
perempuanku kelak.. hehehe,” timpal Joe berusaha mencairkan suasana yang agak tegang.
"Namanya
mirip nama Tante ya, nama yang elok koq, sangat cocok bagi seorang
anak ganteng seperti kamu chayank, Jadi anak yang sholeh ya! Maafkan
tante karna nda membawa oleh-oleh untukmu, bilangin Ayah ya kalo maen
ke rumah Tante Zee jangan nyelonong sendirian aja dong seperti dulu,
sekarang ajakin Zainal dan Mama sekalian ya”, balas Zee dengan sempurna mengatasi kejutekan Meyza.
Ah
Joe... seleramu ternyata bukan pada wanita cantik berkulit putih ato
sawo matang, pintar ataupun kurang cerdas, peranakan ato asli Indonesia,
suka becanda ato suka nyingungin orang lain, tapi lebih pada sosok
gadis cantik yang jutek, kerena hanya itu kesamaan yang aku temukan pada
sosok Meyzamu.
Kubuka pintu rumahku seraya memberi
salam. Kudapati Bapak dan Mama yang sedang berada diruang TV, kusalami
keduanya. Lalu berlalu menuju kamarku pojokan kiri ruangan tersebut.
Cepat-cepat menuju tempat tidur, menarik bantal menutupi wajahku, sekuat
tenaga menahan jalannya airmataku yang sedari tadi ingin keluar.
Tiba-tiba suara langkah kaki Mama mendekatiku, memelukku dan berucap, “Menangislah
Nak, jika kamu tak sanggup tuk menanggung beban masalahmu, keluarkan
jangan pernah kau jalan halangi air matamu tuk keluar. Kamu tahu Nak,
sebagai perempuan kadang kala kita harus bersahabat dengan airmata bukan
berarti kita lemah tetapi karena ia adalah obat penyembuh luka hati
yang paling mujarab, saat hati dilanda kecemasan, keletihan, kegalauan,
kesedihan atau bahkan kegembiraan yang teramat sangat sekalipun.
Menangislah dengan wajar dan jangan berlebih-lebihan ya Nak.”
Akhirnya pertahan Zee pun jebol diatas pangkuan Ibunya, meringkuk seperti bayi kecil yang butuh perlindungan seorang Ibu. “Mama
melihat kamu tadi di rumahnya Nak Joe. Mama tahu kalo hubungan kalian
sesungguhnya lebih dari sekedar sahabat. Ingat sewaktu Mama berkunjung
selama 3 minggu di perantauanmu, Mama selalu menemukan mata yang sembab
dan bengkak dipagi hari setiap hari saat mendengar kabar joe akan
menikah. Ingat Zee.. Mama dulukan pernah menanyakan tentang perasaanmu
ke Nak joe dan jawabanmu selalu saja sama. Joe itu sudah kuanggap
adikku sendiri Ma. Meski kemudian Mama diam, tapi sambil mengamati
tingkah kalian. Bagaimana meyaksikan tatapan Joe berubah kecewa dan
sedih mendapatimu dengan pacar-pacarmu. "
"Hidup
itu pilihan Nak, dan kamu yang sudah memutuskan sendiri memilih
membiarkan Joe menjadi milik orang lain, maka terima resiko-resiko atas
pilihanmu itu Zee. Jangan pernah menyesali kehidupan dengan setangkup
masalahnya, karena perjalanan hidup itu ibarat rangkaian gerbong
masalah-masalah yang harus diselesaikan dan disatukan dalam kemasan yang
baik dan indah tuk dibawa bersama kita melaju ke tahapan selanjutnya.
Jangan biarkan salah satu gerbong masalahmu tak tercat dengan senyum
indahmu Zee, karena saat kamu memutuskan yuk melanjukan perjalanan
hidupmu selanjutnya. Di tengah jalan nanti Ia kan bisa aus berkarat,
bocor dan akhirnya karatannya lalu menjangkiti gerbong-gerbong lainmu
yang telah kau cat indah dengan senyuman keikhlasan", lanjut Mama sambil tetap membelai rambut Zee.
"Ma..
kehilangan Mas Seno rasanya sakit, tapi ternyata lebih sangat
menyakitkan mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang paling mengerti
Zee, yang slalu setia ada disamping Zee saat lagi BT, jutekin,
marah-marah, sedih... Ya Joe Ma. Di depan Joe, Zee tidak harus bertopeng
manis ato terlihat sempurna sebagai perempuan. Zee capek Ma, harus
bertopeng menjadi perempuan yang sempurna untuk orang lain. Zee
sayang banget Joe. Zee nda sanggup melihat Joe menjadi milik perempuan
lain. Zee jahat Ma. Zee jahat", tangisan Zee pun semakin menjadi-jadi.
"Mama
sangat percaya kalo kamu mampu melaluinya dan suatu saat nanti kamu
kan menemukan Joe-mu sendiri pada sosok lelaki lain di luar sana yang
memang didesain Tuhan dengan caranya khusus untuk anak kesayangan Mama
yang cantik ini ”, bisik Mama di telinga Zee.
Di
tatapnya wajah gadis cantiknya, ia tumbuh lebih dewasa dan mandiri
dibanding teman sebayanya, ia hampir lupa bagaimana putrinya ini
menangis. Seingatnya, tangisan terakhir putrinya ia dapati, saat ia
panik menemukan darah menodai celana saat SMP kelas 1 dulu. Diusapnya
air mata putrinya, “ Zee.. tahukah kamu jika tangan lelaki
diciptakan kokoh oleh Tuhan karena memang didesain tuk mencari nafkah
bagi keluarganya, sedangkan mengapa tangan perempuan diciptakan gemulai
seolah tak bertenaga?? Dan mengapa air mata perempuan diproduksi banyak
disudut matanya??"
Zee menggelengkan kepalanya.
"Itu
karena Tuhan sangat menyayangi sosok tegar seorang perempuan, yang
dengan tangan gemulainya itu ia mampu bergerak lincah meyelesaikan
setumpuk pekerjaan ibu rumah tangga dalam sehari tanpa lelah, mulai dari
membangunkan suami dan anak-anaknya dipagi hari, menyuci, memasak tuk
keluarga tercintanya, menyiapkan kebutuhan pagi hingga menjelang tidur
buat keluarganya, bahkan di malam hari pun ia rela terbangun tuk
membelai buah hatinya memastikannya tidur terlelap dengan tenang,
membasuh kotoran bayinya, menggedongnya tuk menenangkan tangisnya,
bahkan pelukan tangan inilah yang sering dirindukan ayahmu hingga
akhirnya ia tersadar tak bisa hidup tanpa keluarga tercintanya, membelai
rambut dan kepala si buah hatinya tuk memberikan rasa tenang yang luar
biasa saat buah hatinya sedang sakit dan sedih, dan tahukah kamu kalo
keduanya mampu bekerja sama dengan baik menjadi sebuah mesin charger
Mama setiap hari, yang membuat Mama kembali pulih disaat tertimpa
masalah dan dalam keadaan apapapun, merekalah yang menemani doa-doa yang
Mama panjatkan tuk keluarga terkasih Mama", jawab Mama penuh kelembutan.
Kemudian
Zee tersenyum, diambilnya tetesan airmatanya dengan kedua tanganya.
Esok mungkin kan lebih sulit tuk menerima kenyataan ini, tapi aku harus
bisa karena masih banyak orang-orang yang kan mencintai aku dengan
tulus dan tanpa kepura-puraan. Terima Kasih Tuhan atas pemberian kunci
rahasia mengapa Mamaku selalu terlihat tegar didepanku. Bukankah CINTA
adalah sebuah PERSAHABATAN, lalu bagaimana caranya aku mencintaiMU jika
aku enggan bersahabat denganMU. Kini kutemukan cara lain tuk
melampiaskan kesedihanku, saat ku tak bisa lagi bersandar pada Joe dan
ketika belain Mama berada jauh darinya saat kembali berjuang hidup
ditanah rantau. Mulai kini akan kugunakan kedua tangan dan airmataku tuk
menemani curhat-curhat malam hariku kepadaMU disetiap sujud dan doa
Tahajjud malamku ditengah indahnya bintang malam dan suara keheningan
malam yang tenang.
*kurang panjang apalagi bacaannya wakakakaka...