GELAP YANG TERLAHIR DARI HITAMKU

Reiciendis voluptatibus...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Reiciendis voluptatibus maiores

Asumenda omnis dolor...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Asumenda omnis dolor

Voluptates repudiandae ...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Voluptates repudiandae sint

Necessitatibus saepe ev...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Necessitatibus saepe eveniet

Omnis dolor repellendus...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Omnis dolor repellendus

Pomnis voluptas assumen...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Pomnis voluptas assumenda

Harum quidem rerum...

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti...

Harum quidem rerum
  • Reiciendis voluptatibus maiores
  • Asumenda omnis dolor
  • Voluptates repudiandae sint
  • Necessitatibus saepe eveniet
  • Omnis dolor repellendus
  • Pomnis voluptas assumenda
  • Harum quidem rerum

Tuesday, July 10, 2012

Pertanyaan di Masa Kecil

[Pertanyaan di Masa Kecil]

Sebagian besar orang tentu saja bahagia akan mas kecilnya, tetapi tentu saja tidak semuanya bahagia. Ada yg juga kisah masa kecilnya memancing tangis namun tak sedikit kisahnya mengundang gelak tawa dan yang paling banyak yah masa kecilnya standar biasa aja kayak kita (oke.. luuu!!).

Kisah kecil gw tentu saja tidak jauh dari absurd, dari kecil itu gw selalu bertanya2 ttg beberapa hal yang mungkin jika kita besar kitapun sama akan bertanya pertanyaan yang sama. pertanyaan gw itu antara lain :
 Kenapa Nyamuk itu Nakal ?? karena menggigit pas kita tidur itu bukan nakal itu jahatttt!! (*sambil mukul2 pake lengan dengan tangan terkepal). Sampai akhirnya aku mempelajari bahwa mereka butuh protein untuk melanjutkan kehidupannya.
Kenapa Kupu-kupu lucu ??  sejak kapan kupu-kupu bisa ngelawak !? sejak kapan !?!??
Kenapa klo Si Komo lewat macet ?? heii ternyata itu penjelasan yg sederhana untuk macetnya ibukota.
Yah pada akhirnya jawaban-jawaban pertanyaan gw itu ternyata adalah pelarian dari betapa malasnya orang tua menjawab pertanyaan sehingga menimbulkan kesan kita diajar untuk berbohong sejak dari kecil. Sedangkan kita diajarkan bahwa bohong itu adalah dosa, kontradiktif bukan ??

Tidak hanya itu kebohongan kebohongan yang diceritakan kepada kita, banyak hal lain. Pernah dengar cerita Snow White (Putri Salju) ? Cerita tentang seorang wanita yang tinggal serumah dengan 7 orang cowok. Daria segi moral mana cerita anak2 melegalkan hal tersebut ?? bahkan kost-kostan campur aja gak segitu amat. sedangkan kita diajarkan untuk menjaga moral.
Kemudian kisah tentang Cinderella, bagaimana mungkin seorang cowok dalam suatu pesta tahu yang diliatin kakinya doang, pervert banget, semacam foot fetish. dari sudut pandang macam apa kita mengakui kelakuan seperti itu?
Dan yang paling parah cerita tentang Sleeping Beauty, bagaimana mungkin ada seorang cewek lagi tidur terus dicium ama seorang pria. Di kitab hukum dan undang2 mana yang memperbolehkan kita nyium2 cewek sembarangan ?

dan akhirnya ini saja dulu kapan2 lagi dilanjut.. :D


Posted by bocah 0 comments

Wednesday, May 19, 2010

CINTA ADALAH SEBUAH PERSAHABATAN (prett 2)

Cerita dengan Mas Seno hanya berjalan 1,5 tahun saja, ternyata bibit bebet bobot di keluarganya begitu kuat mengakar yang membuat aku memilih mundur untuk sebuah harga diri. “Maaf ya Nak, Mas Seno itu anak laki-laki kami satu-satunya di keluarga besar Randen Mas Arya Subroto. Jadi kalo Nak Zee ingin masuk dikeluarga besar kami, Nak Zee harus memiliki kriteria bibit bebet dan bobot yang telah ditentukan dari sejak jaman eyang-eyangnya Mas Seno. Bukan salah kami loh kalo diperjalanan kisah kalian nanti berujung sesuatu yang tidak diinginkan, toh sekuat apapun Mas Seno mempertahankan kamu. Ia takkan kuat melawan desakan keluarga besarnya. Jadi saya selaku Bude’ utusan Orang tuan Mas Seno meminta kerelaan dan keikhlasan Nak Zee tuk menjauhi Mas Seno demi kebahagian keluarga besar kami. Mas Seno sudah ditunangkan dengan keluarga keturunan ningrat sejak kuliah dulu. Biasanya dia anak yang penurut Nak Zee, tapi hanya karena ingin mempertahankan kamu, ia rela bersitegang dengan orang tua dan keluarga besarnya. Kasihan Ibunya sakit-sakitan di Jawa sana makanya Bude’ diutus untuk menemui kamu tanpa sepengetahuan Mas Seno. Waktu pernikahan yang disiapkan sudah dekat tinggal 6 bulan lagi Nak, dan tidak mungkin pertunangan itu dibatalkan sepihak, karena hal itu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya, menunggu masa bakti penugasan Mas Seno sebagai dokter puskesmas selesai”, nada suara dari seorang perempuan anggun setengah baya pun mengalun lembut menghujam tepat didetak jantungku hingga membuatku semakin sulit bernafas.

Ya Tuhan, sesulit inikan jalanku menemui kebahagiaan. Kakiku lemas tak bertenaga dan akhirnya aku jatuh terkulai dilantai restoran itu. Perlahan, kubuka mataku, sakit sekali kepalaku, perlahan kulirik wajah lembut setengah baya yang duduk disamping sofa panjang yang ada di restoran itu.
“Saya sangat mencintai Mas Seno, Saya sangat ingin hidup berdua dengannya. Buuuu... maafkan diriku untuk keinginan-keinginan itu. Mas Seno adalah lelaki impian masa kecilku semua yang kucari ada padanya. Saya sangat ingin memilikinya, Bu.. Sampaikan salam hormatku pada keluarga besar RM. Arya Subroto, katakan pada mereka tidak perlu khawatir mendapatkan halangan dariku. Saya menyayanginya hingga tak ingin melihat Mas Seno berubah menjadi sebagai sosok lelaki jahat yang ingkar pada janjinya dan durhaka kepada orang tuanya. Meski saya bukan berasal dari keturunan ningrat seperti keluarga besar Ibu, tapi diriku juga anak seorang Ibu, yang tahu rasanya sedih jika harus kehilangan cinta seorang Ibu dan kasih sayang keluarga sederhanaku. Beri saya sedikit waktu tuk mengembalikan Mas Seno kalian,” ucapku terdengar lirih berusaha menahan emosi.


Aku takkan menangis, mungkin sejenak aku kan kehilangan senyumku, tapi ini bukanlah “sebuah pengorbanan” bukankah senyumku kan tergantikan oleh banyak senyuman keluarga besar RM Arya Subroto dan lainnya. Cukup kukenang Mas Seno sebagai sosok lelaki idaman yang pernah kunikmati hari-hari bersamanya meski sekejab saja. Terima kasih Tuhan, karena telah membuktikan kepadaku, bahwa ternyata Lelaki impian masa kecilku  yang tampan, santun, baik hati, cerdas, penyayang keluarga, teman diskusi yang handal dan ramah, sosoknya memang nyata, meski akhirnya ia tidak dipersembahkan untukku.

Mas Seno yang baik, maafkan Zee atas keputusan yang tlah kubuat. Aku tahu kita kan sanggup menghadapi tantangan-tantangan jika kita berdua bersatu kelak. Tapi Aku memilih mundur demi sebuah janji pertunangan yang lebih dulu Mas torehkan sebelum hadirnya diriku. Aku takut rasa ini kuat karena kebersamaan kita di tanah rantau, tapi kelak kan melemah seiring dengan cinta yang sengaja kita lemahkan kepada orang tua dan keluarga yang lebih dulu mengenal kita. Mungkin aku sanggup menghadapi penolakan, hinaan, cacian bahkan makian sekaligus dari keluarga besar Mas, tapi aku belum sanggup melihat keluargaku menanggung hal sebesar itu. Aku takut jika suatu saat  diriku menemukan kecacatan dan kelemahan atas sosok sempurnamu yang saat ini kudapati, ditambah hantaman penolakan keluarga besarmu terhadap keluargaku yang membuat penderitaan dimasing-masing pihak, kan membuatku kehilangan kekagumanku padamu. Biarlah dirimu kan terus menjadi sosok yang sempurna dimataku sesempurna sosok impian masa kecilku. Kembalilah ke tunangan dan keluarga besarmu, karena kasih seorang Ibu takkan pernah tergantikan oleh kasih seorang Zee. Maafkan Zee Mas, keputusan sepihak ini kubuat demi kebahagian banyak pihak bukan hanya dua orang saja. Zee berharap pertemuan kita yang diawali salam "selamat datang" secara baik-baik, kan diakhiri dengan salam perpisahan dengan cara yang baik pula.

Dilipatnya kertas yang disodorkan Zee kepadanya seusai makan malam mereka. Direngkuhnya Zee dalam-dalam seolah tak ingin melepaskan gadis manis didepannya ini, dikecupnya kening Zee seraya berucap,”Zee.. katakan apa saja syarat yang kamu inginkan tuk mengubah keputusanmu. Mas akan penuhi apapun itu, Mas tak sanggup kehilangan kamu. Hidup Mas bahagia dengan kehadirannya Zee... Please, jangan membuat Mas Kehilangan kamu Yank”. Suaranya terdengar parau menahan isak yang tertahan didada. Baru kali ini Zee melihat sudut mata Mas Zeno membulirkan tetesan air .


“Mas Seno, jangan membuat Zee bimbang lagi ya... ketahuilah Zee nda sanggup mengucapkannya langsung makanya Zee tulis semuanya di surat itu. Terima kasih telah pernah mengisi hari-hari Zee dengan kisah bahagia. Sayangnya Zee besar ke Mas Seno, tapi Cinta Ibu dan keluarga Mas Seno jauh lebih besar dari punya Zee. Cintanya Zee takkan pernah kuat bersaing dengan cinta mereka yang telah bertahun-tahun mengisi hidup Mas Seno hingga Mas kini bisa menjadi sosok yang pantas Zee sayangi dan kagumi. Jangan rusak hati yang Mas Seno miliki hanya karena sebuah keegoisan semata-mata tuk memiliki Zee dan mengabaikan keluarga besar Mas. Jika Mas Seno sanggup memadamkan rasa cinta kepada orang-orang yang telah bertahun-tahun mencintai Mas Seno dalam keadaan apapun hingga kini, bukan mustahil kan kalo suatu saat Mas sanggup melakukan hal yang sama terhadap cinta Zee yang belum teruji oleh waktu dan keadaan,” ucap Zee sembari memegang kedua tangan Mas Seno yang mengepal kuat saling menggenggam menahan rasa amarah berbaur kesedihan yang teramat dalam. Hari itu adalah malam terakhir diri Zee bertemu dengan Mas Seno, karena esoknya ia harus beranjak pergi dari kampung itu, meninggalkan Mas Seno, melepaskan sejenak kerjaan dan impian-impiannya. Saatnya memulai sesuatu yang baru, saat ini aku hanya butuh waktu sendiri tuk menenangkan diriku.

CLOSED. Kubaca tulisan dipintu sebuah toko saat ku berada di dalam taxi bandara yang membawaku menuju rumah orang tuaku, setelah hampir sebulan lebih mengasingkan diri ke tempat teman di Lombok tuk menghindari Mas Seno. Begitulah kisahku dengan Mas Seno, yang akhirnya terpaksa menyerah berjuang mengubah keputusan bulatku, saat mendengar kabar dari tanah Jawa jika Ibunya tiba-tiba harus dirawat lagi di UGD akibat penyakit jantungnya. Ku langkahkan kakiku menyusuri gang kediamanku, kupeluk Ayah dan Ibuku yang semakin terlihat menua oleh waktu. Kuciumi tangan dan pipi mereka sembari membathin, “Maafkan Zee ya Pa.. Ma, karena sampai saat ini Zee belum bisa memenuhi kebahagiaankalian tuk melihat Zee duduk di pelaminan”.

Selanjutnya Mama membelai rambutku dengan lembut, seraya memberikan gerakan tuk menuju Meja makan,” Mama dah masak makanan kesukaanmu Zee”. Ditatapnya wajah anak sulungnya seraya berkata,” Zee kamu terlihat kuyu dan letih, jangan terlalu memaksakan dirimu bekerja keras, istirahat dan jangan lupa makan saat waktunya tiba. Zee.. jangan pernah lari dari masalahmu Nak, hadapi dan temukan jalan keluarnya secara baik-baik.. Nak Seto sudah berkali-kali menelpon dan datang mencarimu Nak”.

Ditatapnya Mamanya dengan lembut berucap, “Maaaa... Zee baik-baik saja, masalahnya dah Zee dan Mas Seno sepakati penyelesaiannya. Mungkin Mas Seno memang bukan jodohnya Zee”.


Hatinya tiba-tiba kosong dan hambar, saat-saat seperti inilah Zee selalu kangen sosok Joe yang kocak mengibur dirinya yang dilanda sedih. “Jontooooor, Zee butuh dada non empukmu, Zee pengen nangis dan makan sambel yang buanyaaaaak kayak dulu”, ucap Zee menahan tangis. Zee nda pengen Joe berubah koq, karna Zee sayang chassing Joe yang urakan, terlihat cuek seenaknya, kurang beribawa, tetapi contentnya yang sederhana, religius, humoris ditambah ketegasan2mu diiringi dengan celetukan-celetukan celaanmu yang selalu mampu mengimbangi kejutekan, sifat manja, cengeng, becanda ala PMnya Zee, bahkan emosi Zee yang sering meledak-ledak.

Ditatapnya sebuah foto momen kebersamaannya bersama Jo dulu, saat dirinya belum menjadi milik seorang perawat yang mengurusinya sewaktu ia sakit parah dulu di tanah borneo. Menurut cerita Ibunya Bejo, perempuan itulah yang merawatnya, memasakkan, mencucikan pakaiannya hingga yang telah ternoda besar dan kecilnya Joe, meyetrikan bahkan membersihkan kamar kos-kosan Joe selama ia dirawat di RS. Ia memang pantas mendampingi kamu Joe, aku tak perlu khawatir lagi karena kini kamu berada ditangan yang tepat.

Teringat saat, setelah sekian lamanya komunikasi mereka berdua putus, dan tiba-tiba Joe mengabarinya.
“Zee, iwilku yang baik hati dan rada-rada jutek... hehehe... Aku mo ijin pacaran nech tapi aku nda mau lama-lama mo langsung nikah aja, kan dulu katanya harus melapor dulu ma Bu Hansip yang galak biar jalannya lancar. Abis aku ajakin kamu nikah, ditolak mentah-mentah... Lupa bawa kompor ya Joe jadi lupa dimasak dulu, padahalkan aku pengen suatu saat kamu masakin makanan yang rasanya asin dan amburadul, pengen sesekali kamu pijetin saat sakit, pengen jadi imammu, kan ada alasan wajib menegur kamu saat bangun paginya telat tuk Subuhan bareng, jewerin kuping kamu saat mulai malas menunda-nunda sholat, Zee aku pengen kamu yang milihin dan nyediain baju kalo mo ke kantor, lagian kan aku bisa punya anak-anak cantik kayak kamu dan gantengnya kayak aku.. Hehehe.. Mau ya??? Jadi aku dan kamu bisa setiap ada saat salah satu dari kita membutuhkan dada seseorang kala kita bersedih. Zee.. mau ya nikahin aku,” pinta Jo dengan nada candanya tetapi keluar dari lubuk hati yang paling dalam.


“Jooooontoooorrrr, masa’ aku menikah ma anak kecil putih abu-abu... Hehehe... kamu tuch mencari istri apa nyari pembantu Joe, yang bisa kamu suruh kayak gini dan gitu, nda mau ah, masa aku menikah ma orang urakan kayak kamu, yang hobbynya nda mandi.. Apa hasilnya anakku nanti?? Jooooooo... jangan becanda ah, bisa sech aku kabulkan permintaanmu dengan syarat : Dadamu kudu dioperasi dulu biar empuk, enak aja kamu bersandar di tempat yang empuk sementara diriku kan tersiksa oleh ukiran tulang dadamu... Hahahaha.. btw siapa gadis yang rela berkorban seumur hidup itu Jo???,” ucap Zee berusaha terdengar wajar, seketika matanya memerah dengan sendirinya, koq tiba-tiba ada sesuatu yang perih didalam sana mendengar Joe ingin menjalin kasih dengan gadis lain.

"Zee... please aku kan bukan anak putih abu-abu lagi, nda liat apa kumis tipis yang menghiasi wajah gantengku, aku kan sekarang dah rajin mandi bahkan aku sekarang 2 kali sehari. Lah kalo syaratnya kudu mesti operasi, apa kata dunia??.. Zee, ijinkan aku membuktikan kepadamu wahai nenek lampir cantikku.. He3,” balas Joe dengan penuh pengharapan.

“iya 2 kali ganti hari mandinya baru sekali... hehehe... Jonntoooor, jadi mo dikemanain Mas Seno gantengku itu,” balas Zee tidak kalah gesitnya.

“Alasaaaaaann... dari sebelum ada Mas Seno juga jawabannya tetapa sama,  Joe.. kita kan sahabat. Jangan pernah merusak semuanya demi rasa egois tuk memiliki satu sama lain. Biarkan saja ia begini adanya. Kan banyak Persahabatan yang umurnya lebih langgeng dibanding umur pernikahan. Belum pernah ada kan sahabat yang bercerai mempeributkan harta gono gini kayak perceraian artis-artis. Zee... Zee.. andaikan bisa mengajukan proposal kepada Tuhan tuk bisa mengubahku menjadi sosok yang berperawakan tinggi, berdada bidang, rapi, punya banyak duit, keluaran universitas ternama, memiliki retorika yang handal bak diplomat ulung, memiliki otak encer yang bisa menampung isi satu perpustakaan, beribawa.. Aku akan melakukannya untukmu Zee.. tapi apa dayaku..  takdirku berada pada sosok urakan kayak gini... Hehehe... makanya usaha terakhirku saat ini hanya meminta restu darimu tuk kelak menikahi pacarku ini. Ingat ya Zee, aku takkan pernah berubah untukmu, ku kan slalu ada tuk sobat terbaikku. Semoga kamu dan Mas Senomu bahagia, jika kelak kita tak berjodoh siapa tahu anak-anak kita yang berjodoh.. Hahaha,”ujar Joe sengaja memancing kejutekan Zee.

“Jooooontooooorrr, Ibunya aja nda mau, pa lagi anaknya yang kan lebih cakep keturunan Papanya,,, Weikzzzz... Mat Menempuh hidup baru ya Joe. Sampaikan salamku buat sustermu, titip pesanku tuk banyak bersabar dan beristigfar aja sepanjang hidup mendampingi kamu... Hehehe.” Balas Zee tak mau kalah.


“Zee... Muachhhh... terima salam tempelku ya titip buat jidad Nong Nong mu yang aduhai..”, ucapan terakhir Joe yang nda sempat dibalas Zee, karna keburu ditutupin telepon dari Borneo sana. Dasar anak urakan, anak hutan belantara. Hikshikshiks. Matanya semakin berkaca-kaca entah mengapa seketika merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga,  meski kelak kau mengijinkan aku tuk bisa 24 jam kamu ada untukku, tapi aku pasti takkan bisa nyelonong sebebas dulu lagi, menghubungi dirimu dan berbagi kisah denganmu. Jontoooooorrrr....  aku kan kehilangan dirimu dan kangen non empukmu itu, lagian rasanya pasti tidak nyaman lagi berada diukiran tulang dada yang nda empuk ditambah tulisan “Milik Suster Perawat” kayak sapi-sapi yang dijual di Hari Raya Kurban.

Ternyata benar kata orang jika waktu kan mengobati rasa sedih kehilangan sesuatu. Setahun sudah pernikahan Mas Seno dilaksanakan, terakhir sebelum hari H, ia sempat menelpon aku dan meminta maaf atas keputusannya tuk menyerah pada keputusan bulatku dan pinta Ibu tersayangnya, hampir sejam kami mengobrol seperti tak pernah terjadi apa-apa, bahkan Budenya ikutan nimbrung sesaat mengucapkan terima kasihnya padaku. Ah, sungguh kesedihan yang akhirnya melegakan banyak pihak. Ah.. kenapa tiba-tiba, aku kangen si Jo yang dah hampir 2 tahun ini telah dicap “MILIK SUSTER PERAWAT” dikulit dekilnya, Hehehe... apa kabarnya ya dia sekarang???...

Joe aku sebenarnya pengen nelponin kamu, tapi aku sadar diri Joe meski engkau sobatku tapi kamu dah menjadi suami orang lain, membuat komitmen dengannya. Sungguh rasa sakitnya kehilangan kamu, ternyata lebih perih dibandingkan saat kukehilangan Mas Seno dan pacar-pacarku yang dulu. Apakah ada persahabatan dua jenis kelamin yang berbeda yang kan berakhir kekal seperti persahabatan sejenis???


Kuch Kuch Hota He, menjadi saksi sebuah kisah persahabatan dua jenis, yang menggambarkan bahwa suatu saat nanti Persahabatan dua jenis kan menimbulkan rasa egois "salah satu pihak" tuk saling memiliki, hingga akhirnya menimbukan perpisahan saat salah satunya lebih memilih mencintai orang lain. Meski tak jarang keduanya berakhir di pelaminan.

Entah disengaja atau tidak kelak kan ada tembok penghalang yang terbangun sedikit demi sedikit diantara mereka seperti diriku dan Joe saat ini.Ah, susahnya memiliki sahabat seorang pria... bathin Zee... kadang kala iri  juga melihat persahabatan Dija dengan Susan, bahkan terlihat semakin lengket saat keduanya memiliki pasangan. Tak tanggung- tanggung bahan gosipnya kini semakin bertambah mulai dari harga sayur, cara mengasuh anak hingga kelakuan suami-suami mereka..Arrrgghhhhhh... Jontoooooorrr kenapa sech kamu mesti berkumis.

Pesawatku baru saja mendarat di kampung halamanku. Kangen berlebaran dengan Ibu, Bapak dan adik-adikku. Sesaat, taxi berhenti pas di gang rumahku, kulangkahkan kakiku dengan cepat berharap segera berjumpa Ibu. Aku kangen beliau, hubunganku dengannya semakin dekat setelah peristiwa perpisahanku dengan Mas Seno. Kini beliau selalu menjadi tempat curahan kisah sedih dan senangku saat tak ada lagi teman berbagi. Ah, ternyata belaian jemari mengusap kepalaku mampu menenangkanku saat ku gundah dan sedih. Makanya aku selalu kan kangen bertemu dengan beliau, Bapakku dan adik-adik serta seorang ponakanku yang masih bayi, anak adikku yang menikah setahun lalu.

“Suit.. Suit.. ada gadis Cantik berjidad Nong Nong  bertampang jutek lewat, liat cayank kalo gede nanti hati-hati ya ama Mertua jenis kayak yang barusan lewat.. Hehehe...”, tiba-tiba terdengar suara tak asing ditelinga Zee. Jantungnya seketika berdegup kencang tak karuan. Ya Allah, tolong tenangkan diriku jangan biarkan aku berkhayal lagi seolah-oleh mendengar suaranya. Cukup sudah, aku mengaku kalah..


Aku bukan Zee yang tangguh setangguh batu karang, atau Zee yang tegar setegar rumput liar, Aku hanya seorang Zee wanita biasa yang belajar menerima keadaanku bahwa dibalik chassingku yang tomboy dan jutek, ada sosok Zee yang cengeng dan manja. Dipercepatnya lagi langkah kakinya sementara matanya lurus kedepan berusaha menghindari kalo saja ada orang yang melihat tingkah anehnya.

“Iwiiiiilllllll... ternyata jutekmu itu tak kamu buang dilaut ya saat perjalanan ke sini... Hehehe”, suara itu terdengar lagi. Zee menghentikan langkahnya mencari sumber suara yang berasal dari halaman sebuah rumah yang selalu saja aku hindari tuk menguburkan kenangan masa lalu bersama sahabatku. Ya, dari rumah Bejo anak putih abu-abu yang urakan dan jarang mandi itu.

Dihentikannya langkah kakinya, lalu badannya diarahkan memutar balik ke belakang menuju rumah Joe, lalu matanya terkesima saat menangkap sesosok lelaki berdandan rapi, mengenakan kaos putih bercelana jins yang tidak belel seperti dahulu kala, badannya terlihat tegap akibat badannya tak lagi cungkring dan agak berisi. Potongan rambutnya kini rapi dan ia terlihat bersih persis seperti abis keluar dari ketok magic dan salon mobil eh salah.. Sekolah kepribadian ternama.

“Jontooooooooorrrrrrr.... rupanya kamu pulang lebaran disini juga ya,” tiba-tiba ia menjerit kegirangan dan tanpa sadar mencubit-cubit pipi Joe seperti dahulu kala. Zee kemudian tersadarkan bahwa dipelukan Joe ada sesosok bayi lelaki mungil yang ganteng. Oh iya Joe kan dah jadi ayah sekarang, apa ia anak Joe ya. Matanya menangkap kemiripan dikeduanya, tak salah lagi bayi mungil itu anaknya Joe, buktinya ia memiliki senyum manisnya Joe.


Ternyata kamu berhasil memperbaiki keturunanmu Joe, cakeeeeppp. Pasti gen Mamanya lebih kuat dari punyamu Joe.. hehehe,” ucap Zee sambil memindahkan bayi mungil itu ke gendongannya. “Hai anak yang cakep, jika saja dulu aku tak membiarkan gengsiku mengalahkan rasa sayangku ke Ayahmu, mungkin saat ini kamu kan memanggilku Mama dan bukan Tante Zee,” Bathinku memeluk mesra anak Joe. Tahukah kamu hanya dengan memelukmu adalah cara Tante tuk kembali merasakan ketenangan seperti saat didalam pelukan Ayahmu dulu. Sungguh, penyesalan datangnya akhir.

Siapa dulu dong Ayahnya.. Joe anak putih abu-abu paling ganteng segang ini yang kini berlari pesat meninggalkan si senior manisnya yang jutek lagi  iwil... Hehehe... Kamu berubah bertambah dewasa dan lebih feminim Zee, semakin cantik tapi aku selalu kangen dengan ransel, sepatu kets dan celana jins sobek-sobekmu. Rasanya itu lebih pantas menemani suara tawa terbahak-bahakmu yang cempreng itu dan jalan maskulinmu.. Aku kangen kamu Zee,” bisik Joe tiba-tiba disampingnya.

Tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara,“Ayaaaahh, tamunya jangan dianggurin diluar dong sayang, mari masuk ke dalam mba”, terdengar suara sosok wanita cantik dari arah pintu, tersenyum dan melambai. Mba????... Apa aku sudah terlihat begitu sangat tuanya. Dasar, mentang-mentang dirimu lebih muda, anggun dan feminim. Ia pasti istrinya Joe, ihhh.. ternyata aslinya lebih cantik dari fotonya.

“Kenalkan Ma, ini Zee sobat baikku yang sering  Ayah ceritakan itu loh,” jawab Joe sambil memeluk mesra pinggul istrinya sambil mengedipkan matanya dengan nakal kearahku.

“Saya Gusti Cherryl Meyza Thomson,”ujarnya sambil menyodorkan jari-jari tangan lentiknya yang putih nan mulus. Nama dan wajah yang indah khas anak peranakan banjar keturunan Inggris. “Saya Zainab”, Kubalas jabatan tangannya, warna yang sungguh mencolok dibandingkan kulit sawo matangku. Rasanya seperti jatuh, tertimpa tangga dan diketawain orang sekampung. Hikshikshiks. Jangan Menangis Zee, kamu telah bisa melewati banyak hal dalam hidupmu, masa menghadapi wanita ramping bak model, cantik, lembut, dan keibuan seperti Meyza kamu terlihat rapuh dan tak ternilai. Ayo angkat kopermu, cepat-cepat pergi dari situasi ini. Saatnya menenangkan bathin.

“Maaf ya Meyza.. Joe.. dan sikecil siapa namamu ya ganteng??... Tante Zee harus pergi dulu, kapan-kapan Tante kemari lagi ya. Permisi, Assalamualaikum”, terdengar suara Zee agak serak menahan sesuatu yang mendesak tuk keluar. Jangan sekarang. Please.. pinta Zee pada dirinya.


“Waalaikumsalam Tante Zee. Nama saya Zainal, terdengar sangat kampungan ya tante... tapi kata Mama itu pemberian wajib Ayah tuk nama anak lelaki pertamanya dan Jezee tuk anak perempuannya saat Mama hamil dulu”, terdengar suara bernada cemburu sedikit jutek dari Meyza, mencoba menjawab pertanyaan yang basa-basi kutanyakan pada bayi mungilnya.

“Ahhh... Mama.. jangan bongkar rahasia gitu dong sayang... nama anak kita jangan kamu beberin ke Zee, bisa-bisa nanti ia nyontek nama indah anak perempuanku kelak.. hehehe,” timpal Joe berusaha mencairkan suasana yang agak tegang.

"Namanya mirip nama Tante ya, nama yang elok koq, sangat cocok bagi seorang anak ganteng seperti kamu chayank, Jadi anak yang sholeh ya! Maafkan tante karna nda membawa oleh-oleh untukmu, bilangin Ayah ya kalo maen ke rumah Tante Zee  jangan nyelonong sendirian aja dong seperti dulu, sekarang ajakin Zainal dan Mama sekalian ya”, balas Zee dengan sempurna mengatasi kejutekan Meyza.

Ah Joe... seleramu ternyata bukan pada wanita cantik berkulit putih ato sawo matang, pintar ataupun kurang cerdas, peranakan ato asli Indonesia, suka becanda ato suka nyingungin orang lain, tapi lebih pada sosok gadis cantik yang jutek, kerena hanya itu kesamaan yang aku temukan pada sosok Meyzamu.

Kubuka pintu rumahku seraya memberi salam. Kudapati Bapak dan Mama yang  sedang berada diruang TV, kusalami keduanya. Lalu berlalu menuju kamarku pojokan kiri ruangan tersebut. Cepat-cepat menuju tempat tidur, menarik bantal menutupi wajahku, sekuat tenaga menahan jalannya airmataku yang sedari tadi ingin keluar. Tiba-tiba suara langkah kaki Mama mendekatiku, memelukku dan berucap, “Menangislah Nak, jika kamu tak sanggup tuk menanggung beban masalahmu, keluarkan jangan pernah kau jalan halangi air matamu tuk keluar. Kamu tahu Nak, sebagai perempuan kadang kala kita harus bersahabat dengan airmata bukan berarti kita lemah tetapi karena ia adalah obat penyembuh luka hati yang paling mujarab, saat hati dilanda kecemasan, keletihan, kegalauan, kesedihan atau bahkan kegembiraan yang teramat sangat sekalipun. Menangislah dengan wajar dan jangan berlebih-lebihan ya Nak.”


Akhirnya pertahan Zee pun jebol diatas pangkuan Ibunya, meringkuk seperti bayi kecil yang butuh perlindungan seorang Ibu. “Mama melihat kamu tadi di rumahnya Nak Joe. Mama tahu kalo hubungan kalian sesungguhnya lebih dari sekedar sahabat. Ingat sewaktu Mama berkunjung selama 3 minggu di perantauanmu, Mama selalu menemukan mata yang sembab dan bengkak dipagi hari setiap hari saat mendengar kabar joe akan menikah. Ingat Zee.. Mama dulukan pernah menanyakan tentang perasaanmu ke Nak joe dan jawabanmu selalu saja sama.  Joe itu sudah kuanggap adikku sendiri Ma. Meski kemudian Mama diam, tapi sambil mengamati tingkah kalian. Bagaimana meyaksikan tatapan Joe berubah kecewa dan sedih mendapatimu dengan pacar-pacarmu. "

"Hidup itu pilihan Nak, dan kamu  yang sudah memutuskan sendiri memilih membiarkan Joe menjadi milik orang lain, maka terima resiko-resiko atas pilihanmu itu Zee. Jangan pernah  menyesali kehidupan dengan setangkup masalahnya, karena perjalanan hidup itu ibarat rangkaian gerbong masalah-masalah yang harus diselesaikan dan disatukan dalam kemasan yang baik dan indah tuk dibawa bersama kita melaju ke tahapan selanjutnya. Jangan biarkan salah satu gerbong masalahmu tak tercat dengan senyum indahmu Zee, karena saat kamu memutuskan yuk melanjukan perjalanan hidupmu selanjutnya. Di tengah jalan nanti Ia kan bisa aus berkarat, bocor dan akhirnya karatannya lalu menjangkiti gerbong-gerbong lainmu yang telah kau cat indah dengan senyuman keikhlasan", lanjut Mama sambil tetap membelai rambut Zee.

"Ma.. kehilangan Mas Seno rasanya sakit, tapi ternyata lebih sangat menyakitkan mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang paling mengerti Zee, yang slalu setia ada disamping Zee saat lagi BT, jutekin, marah-marah, sedih... Ya Joe Ma. Di depan Joe, Zee tidak harus bertopeng manis ato terlihat sempurna sebagai perempuan. Zee capek Ma, harus bertopeng menjadi perempuan yang sempurna untuk orang lain. Zee sayang banget Joe. Zee nda sanggup melihat Joe menjadi milik perempuan lain. Zee jahat Ma. Zee jahat", tangisan Zee pun semakin menjadi-jadi.



"Mama sangat percaya kalo kamu mampu melaluinya dan suatu saat nanti kamu kan menemukan Joe-mu sendiri pada sosok lelaki lain di luar sana yang memang didesain Tuhan dengan caranya khusus untuk anak kesayangan Mama yang cantik ini ”, bisik Mama di telinga Zee.

Di tatapnya wajah gadis cantiknya, ia tumbuh lebih dewasa dan mandiri dibanding teman sebayanya, ia hampir lupa bagaimana putrinya ini menangis. Seingatnya, tangisan terakhir putrinya ia dapati, saat ia panik menemukan darah menodai  celana saat SMP kelas 1 dulu. Diusapnya air mata putrinya, “ Zee.. tahukah kamu jika tangan lelaki diciptakan kokoh oleh Tuhan karena memang didesain tuk mencari nafkah bagi keluarganya, sedangkan mengapa tangan perempuan diciptakan gemulai seolah tak bertenaga?? Dan mengapa air mata perempuan diproduksi banyak disudut matanya??"

Zee menggelengkan kepalanya.

"Itu karena Tuhan sangat menyayangi  sosok tegar seorang perempuan, yang dengan tangan gemulainya itu ia mampu bergerak lincah meyelesaikan setumpuk pekerjaan ibu rumah tangga dalam sehari tanpa lelah, mulai dari membangunkan suami dan anak-anaknya dipagi hari, menyuci, memasak tuk keluarga tercintanya, menyiapkan kebutuhan pagi hingga menjelang tidur buat keluarganya, bahkan di malam hari pun ia rela terbangun tuk membelai buah hatinya memastikannya tidur terlelap dengan tenang, membasuh kotoran bayinya, menggedongnya tuk menenangkan tangisnya, bahkan pelukan tangan inilah yang sering dirindukan ayahmu hingga akhirnya ia tersadar tak bisa hidup tanpa keluarga tercintanya, membelai rambut dan kepala si buah hatinya tuk memberikan rasa tenang yang luar biasa saat buah hatinya sedang sakit dan sedih, dan tahukah kamu  kalo keduanya mampu bekerja sama dengan baik menjadi sebuah mesin charger Mama setiap hari, yang membuat Mama kembali pulih disaat tertimpa masalah dan dalam keadaan apapapun, merekalah yang menemani doa-doa yang Mama panjatkan tuk keluarga terkasih Mama", jawab Mama penuh kelembutan.


Kemudian Zee tersenyum, diambilnya tetesan airmatanya dengan kedua tanganya. Esok mungkin kan lebih sulit tuk menerima kenyataan ini, tapi aku harus bisa karena masih banyak orang-orang yang kan mencintai aku dengan tulus dan tanpa kepura-puraan. Terima Kasih Tuhan atas pemberian kunci rahasia mengapa Mamaku selalu terlihat tegar didepanku. Bukankah CINTA adalah sebuah PERSAHABATAN, lalu bagaimana caranya aku mencintaiMU jika aku enggan bersahabat denganMU. Kini kutemukan cara lain tuk melampiaskan kesedihanku, saat ku tak bisa lagi bersandar pada Joe dan ketika belain Mama berada jauh darinya saat kembali berjuang hidup ditanah rantau. Mulai kini akan kugunakan kedua tangan dan airmataku tuk menemani curhat-curhat malam hariku kepadaMU disetiap sujud dan doa Tahajjud malamku ditengah indahnya bintang malam dan suara keheningan malam yang tenang.

*kurang panjang apalagi bacaannya wakakakaka...
Posted by bocah 0 comments

CINTA ADALAH PERSAHABATAN

Bejo mengepulkan asap rokoknya dalam-dalam berusaha melawan dinginnya malam ini, ada berjuta-juta kepenatan yang hendak ia keluarkan dari rongga dadanya. Rasa beberapa tahun lalu masih sama dan tak berkurang sedikitpun untuknya. Masih terbayang-bayang kejadian sore tadi dihalaman rumahnya. Sesosok wajah manis yang tak berubah sedikitpun, meski kini ia tampil lebih tenang, dan sedikit feminim dibanding biasanya mengenakan gaun terusan. Sungguh perubahan yang luar biasa, meski sikap dan candaannya tidak berubah sedikit pun. Ia terlihat penuh kasih sayang menggendong anak lelakiku yang kini berusia 6 bulan, si Juniorku pun bergelayut mesra seolah-olah tak mau lepas dari pelukannya. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Nak.. Nak.. tak diragukan lagi kamu memang Bejo Junior. Zee... kamu tetap selalu akan spesial dihatiku sampai kapan pun.

“Joooooontor, kenalkan nech Ralp pacar baruku”, teriak Zee sambil menepuk bahu Bejo tiba-tiba dengan manjanya. Sontak kaget dan hampir saja gitar yang dipegangnya jatuh menghempas aspal di depan jalan gang rumah mereka. Untung aja nda kejadian, cicilannya kan baru lunas 5 kali dari 25 kali cicilan potongan uang saku jajan dari Ibu.
“Aaa.. aaa.. Apaaaa???.... Hai, kenalkan saya Joe, anak paling ganteng di Gang sini”, jawabnya segera berusaha mengatasi kekagetanya.

“Ralipuddin.. Senang berkenalan dengan anda Joe”, balas Ralp dengan mimik khas ketegasannya dibalik wajah gantengnya yang putih bersih. Andaikan bisa serapi dan sebersih anda, bathin Joe.
“Mr. Ralp ini instruktur ditempat kursus Bahasa Inggrisku, kami baru saja jadian. Jadi maaf ya Jontor kalo baru kali aku ceritain ke kamu”, bisik Zee tiba-tiba. “Tor, mukamu kenapa merah keungu-unguan ya???.. cei cei cei yang baru abis facial, tumben nurutin saranku buat sesekali ngerawat diri”, lentingan suara Zee kemudian membahana bersama tawanya dan Mr. Ralp yang sedari tadi berusaha mempertahankan mimik tegasnya akhirnya luluh jua membaur tawa bersama Zee.

“Eh..eh.. aku baru aja dari Salon Mpok Jule, tadinya Cuma mo ngerapihin rambut, eh sama Mpoknya ditawarin facial katanya ada produk baru buat Cowok dari Korea biar putih n gantengnya nular ke aku.. he3,” balas Joe sambil melirik jam tangannya bermaksud berkaca. “Waduh, tampangku gimana sech.. koq kayaknya mengundang banget tuk orang nyela abis-abisan”, bathin Joe. Nasib.. Nasib.. Bermaksud ingin sedikit terlihat putih koq susah ya.


Zainab alias Zee adalah tetangga beberapa blok dari rumahku. Wajahnya manis, khas wajah wanita Indonesia meski berkulit sawo matang tapi kulitnya bersih terawat. Orangnya pintar, cerdas, lucu dan mandiri, meski terlihat agak sedikit tegas dan tomboy sekilas jutek. Pertama kali kenalan di rumah seorang teman satu sekolahan SMAku Adi, yang juga adik kandungnya. Usia kami memang terpaut 2 tahun, namun karena pembawaannya yang santai seolah-olah tidak membatasi ruang komunikasi kami. Keluarganya pun dah kuanggap seperti keluargaku sendiri, demikian pula sebaliknya.

Kepulan asap rokok memenuhi kamarnya, sesekali dihirupnya asap itu berharap ia masuk ke paru-parunya dan akhirnya mampu menyudahi perih hatinya yang entah kesekian kalinya teriris-iris oleh cintanya pada wanita yang bernama Zainab. Zee... mungkin kamu hanya menganggap aku tidak lebih dari seorang adik sekaligus sahabat buatmu, tapi tahukah kamu Zee selalu saja ada luka baru saat engkau punya pacar baru. Aku bahkan selalu menyelipkan doa jahatku saat mendengar cerita-cerita bahagiamu bersama lelaki lain, semoga engkau segera putus dengannya. Karena hanya saat moment seperti itulah perhatianmu kan tertuju fokus untukku saja, bahkan aku rela menabung uang jajanku dan senantiasa membawa charge HP kemana-mana sekedar tuk menjaga jangan sampai HPku lowbat saat menyambut telp dan smsmu yang hampir setiap 5 menit sekali tuk kisah tawa dan sedihmu Zee.

Zee.. masih teringat saat sosok khas tegarmu berubah melembut oleh lelehan air mata, dan akhirnya engkau letih dan menyandarkan kepalamu dibahuku. Kala engkau tahu sosok lelaki idamanmu yang sering engkau bangga-banggakan akan kecerdasannya dan kepiawaian retorikanya saat memberi pidato di depat Senat fakultasmu, berkhianat dengan teman baikmu. “Eh anak putih abu-abu, ayo cepat jemput aku. Kita ke pantai sore ini. Jangan lupa mandi dan bawa duit yang banyak ya. Aku lagi bokek tapi pengen makan bakso 3 mangkuk. Pokoknya Cabenya yang buanyaaaaaaaakkkk”, perintahmu lewat telp yang langsung kau tutup tanpa sempat kujawab. Saat kutanya mengapa engkau menangis Zee?? Kamu dengan congkaknya menjawab kalo itu bukan airmata kesedihan tapi hanya karena kepedesan saja. Ahh Zee... Zee... aku kan tahu itu hanya alibimu untuk menyembunyikan pedih hatimu dibalik pedesnya cabe, gimana nda pedes, lah 5 sendok sambel ditambah 7 cabe rawit dan sesendok teh merica. Itu namanya makan cabe plus pentolan bakso dan mi kritingnya.


Ternyata sosok tegarmu menyelimuti kerapuhan di dalam sana, Zee.. kamu tidak perlu menyembunyikan kemanjaan dan sifat kekanak-kanakanmu pada orang lain apalagi pada lelaki, kamu tahu karena itulah kalian diciptakan dari tulang rusuk kami, bukan dari tulang kepala tuk dijadikan atasan kami ataupun dari tulang kaki tuk dijadikan hamba kami tapi hawa diciptakan dari tulang rusuk adam karena wanita ada tuk sejajar dengan laki-laki. Bukan dalam artian kamu harus terlihat maskulin khas laki-laki tapi feminimlah tuk melunakkan kemaskulinan kami sehingga kekakuan kamipun mampu bergerak lentur mengimbangi. Zee.. ketahuilah dadaku kan selalu tersedia kala dirimu membutuhkan tempat tuk menangis. Tapi maafkan ya Zee, kalo ia tidak kan pernah bisa seempuk dada sobat wanitamu.

Zee.. My Iwil.. alias My Kriwil.. Aku suka membayangkan rambutmu kriwilmu yang dulu sering jadi bahan olok-olokanku. Bentuknya lucu kayak tekstur mie. Makanya sampai sekarang aku tak sanggup menahan rasa yang menggebu saat Abang bakso bolak balik menawarkan jualannya, sering keingat kamu Zee, pa lagi saat jam dah menunjukkan angka 1 di tengah siang bolong ditemani perut kosongbelum keisi apa-apa akibat isi dompet kosong abis beliin pulsa HP, buat menjawab smsmu dan telponmu. Selain kangen mo dengerin suara dan tawamu juga karena ingin menunjukkan dan ngebantah kata-katamu kalo anak putih abu-abu HPnya aja yang model terkini tapi tiap mo nelp kemana-mana yang ngejawab pasti suara cewek lembut yang sama, “Maaf.. pulsa anda tidak mencukupi tuk melakukan panggilan, segeralah.... blablabla”.. Lah koq ada ya, cewek yang sangat setia melakukan hal yang sama meski ia tahu setelahnya itu bahkan menerima banyak makian, seperti, “Kenapa diangkat mba” atau “Sialan pulsaku habis”. He3.

Zee.. Zee kelakuanmu tidak berubah sedikitpun, meski kini dah hampir 5 tahun kita bersahabat, kamu masih saja berusaha terlihat tampil kokoh terpercaya bak “semen kelas wahid” di depan keluargamu sebagai anak pertama. Selalu saja ingin tampil bak pahlawan keluarga, kuliah sambil kerjapun kau jambangi hanya ingin memperlihatkan bahwa kamu bisa meringatkan beban orang tuamu, berusaha tampil menjadi teladan bagi adik-adikmu makanya kamu selalu berusaha mencapai yang terbaik, bahkan sejak SMA pun kamu yang sering menghadiri acara pembagian raport kedua orang adik ketika ayahmu sibuk dikantor dan Ibumu sibuk melayani pesanan katering tetangga. Tahukah kamu sebenarnya bukan karena tuntutan peran sebagai anak pertama, tapi lebih karena rasa keibuanmulah yang mendorongmu menjadi seperti itu. Kelak engkau pasti menjadi seorang Ibu yang hebat Zee. Berharap akulah Bapak anak-anakmu kelak.

Kamu bahkan berusaha tegar dan tanpa airmata menasehati dan menjaga adik-adikmu agar tidak sedih terguncang oleh luka badai prahara yang tengah mengguncang pernikahan orang tuamu. Kamu berusaha menenangkan adik-adikmu saat suasana rumah berubah kisruh saat Mamamu memilih menenangkan diri pulang ke kampung Nenek yang jauh dipelosok sana saat Papamu ketahuan mencoba menjalin affair dengan wanita lain. Semenjak peristiwa “Cabe Gate” dulu, akhirnya bukan hanya bantal saja yang menjadi saksi bisu saat kau menangis, tapi kini kau sering memintaku menyediakan diri dengan pasrah, menenangkanmu saat menangis bersandar di dada non empukku ini.


Tahukah kamu Zee, kadang-kadang aku berfikir kalo sebenarnya AKU KADANG JAHAT SAMA KAMU, karena aku selalu bahagia melihatmu menangis dipelukku.. Ku bahagia bukan karena kamu terluka Zee, tapi kubahagia saat kau menangis dipeluk, karena saat itulah aku bisa menyaksikanmu menjadi diri sendiri, menjadi sosok seorang perempuan cengeng dan manja. Kamu pantas bebas menjadi dirimu sendiri Zee, bukan menjadi diri apa yang orang lain dan lingkungan sekitarmu tuntut dan inginkan, karena toh akhirnya tanggung jawab hidupmu adalah kepunyaanmu dan bukan hasil rekayasa orang lain. So be urself ya Iwilku.

Ternyata waktu tidak mengubahmu Iwilku, kamu selalu saja membuatku khawatir oleh kelakuan iseng dan nekadmu. Ingat peristiwa isengmu mencoba membuktikan hasil survey sebuah majalah wanita yang mengangkat issue bahwa mengapa begitu banyak Lelaki tidak setia?? Bahkan yang beristripun melakukan perselingkuhan?? Kamu bahkan mengadakan riset sendiri tuk mencari tahu akan hal itu. Ingat Zee, lagunya Bpk. Basofi Sudirman “Tidak Semua Laki-Laki”. Mungkin mereka hanya sebahagian kecil dari hasil survey yang diambil dari diskotik, kafe-kafe, dan tempat-tempat yang banyak godaan tuk sebuah kesetiaan dan bukan ditempat-tempat yang bijak seperti kata sebuah novel yang kemaren kubaca Zee. Masih banyak cara tuk membuktikan hasil survey itu, bukan dengan melibatkan dirimu melakukan study affair kecil-kecilan dengan lelaki beristri yang sangat memujamu yang tinggalnya di satu area tempat kos-kosanmu di sana. Zee.. aku begitu khawatir mendengar cerita-ceritamu itu, aku takut kamu kenapa-kenapa, menjadi korban keisenganmu sendiri. Kadang kamu terlalu PD dengan keberanian dan kemampuan dirimu mempertahankan diri dari serangan orang lain, tapi ingat Zee kehebatan apapun kadang kala perlu sesekali beristirahat tuk membuatnya ampuh kembali seperti sedia kala.


Untung saja malam itu kamu terbebas dari percobaan rayuan maut Bapak itu. Zee, jangan diulang lagi ya Iwilku, Toh buktinya Papamu kini kembali akur dengan Ibumu dan kembali akur seperti sedia kala. Mungkin perselingkuhan itu terjadi bukan karena semata-mata kegenitan seorang laki-laki, tapi karena saat itu ia sedang diuji keimanan, nafsu dan komitmennya atau bahkan suatu bentuk penyaluran protesnya atas peranan sang Istri yang mulai berlaku cuek, seenaknya dan dengan segudang tuntutan materi lebih kepada suami agar ia bisa tampil dengan dandanan masa kini ala ibu-ibu arisan di mall. Meski lelaki memiliki sedikit nafsu dibandingkan dengan beribu-ribu jenis nafsu wanita, tapi ketahuilah bahwa banyak lelaki yang akhirnya jatuh hancur akibat “satu nafsu yang satu itu”.

Catat ya Zee... perselingkuhan itu terjadi bukan karena adanya keinginan dari lelaki semata-mata, tapi karena adanya kesempatan yang ditawarkan pihak wanita sebahai partner selingkuhannya. Kan tidak semua wanita di luar sana juga baikkan Zee, toh banyak dari mereka yang memberikan umpannya cerdiknya dengan rayuannya tuk memancing lelaki hidung belang, semata-mata hanya karena tuntutan materi dan keduniawian. Zee.. hentikan aksimu tuk membuktikan tentang sebuah kesetiaan, karena tidak ada seorang pun yang kan tahu sampai kapan ia kan setia pada suatu komitmen apapun bahkan dirimu sendiri, karena hari esok masih sebuah misteri. Jadi biarkanlah ia tetap kan menjadi misteri hingga akhirnya terkuak jawabannya nanti. Jadi jangan bertindak mendahului ketentuan Tuhan, tuk menjudge sesuatu sebagai hal yang absolut atau pasti.

Kamu menganggukkan kepala tanda setuju, meski kadang kala engkau keras kepala terhadap sesuatu yang kamu yakini benar namun dengan penjelasan yang menurutmu bisa dipertimbangkan maka kamu tak jarang melunakkan keputusanmu. Makasih Zee telah berlaku dan bersikap apa adanya kamu didepanku. Tak seperti sikap dan ucapan yang kamu atur bak robot saat kamu berhadapan dengan pacar-pacarmu itu.


Meski akhirnya Zee dan aku berpisah tempat karena tuntutan pekerjaan, namun komunikasi dengannya selalu berlanjut melalui HP. Satu hal yang tak pernah berubah dari dulu antara Aku, Zee dan HP... Aku dan HPku : selalu saja menjaga hubungan baik jangan sampai ia lowbat atau kekurangan pulsa, Zee dan HPku : dengan bantuannya maka komunikasi antara aku dan Zee berjalan dengan baik dan lancar ... ibaratnya OPEN24hours, kapan dan dimanapun, Aku dan Zee : masih tetap berhubungan baik, masih tetap berbagi cerita, tawa dan tangis meskitak bisa lagi bertatap mata langsung.

Zee.. masih saja membagi kisah percintaannya, masih menunjukkan suara manjanya saat menggodaku, masih dengan suara tegasnya memerintahku melakukan ini dan itu untuknya. “Zee.. ini sudah jam 2 malam Iwil, masa jam segini kamu mo nyuruh aku nyanyi sambil gitaran, apa kata tetangga kamar kos2anku??... Besok aja ya, aku akan nyanyikan satu album “Tidak Semua Laki-Laki” khusus untukmu ya. Sekarang bobo sana gih, besokkan kamu mo kerja. Nanti dech aku yang telponin kamu ya”, balasku saat suara Zee kediktatorannya di HPku, memaksaku bernyanyi tuk menghibur hatinya yang sedang patah. Ah Zee.. Zee... lagi-lagi lagu lama yang diremix ulang,“Jontoooooorrrrr, jahaaaaaaaattt, kamu sama aja dengan laki-laki lain”, teriaknya dengan nada 5 oktafnya. Tuuttttttttttttt..... telpon terputus. Wuihhhhh, bakat seriosanya muncul lagi dech.


Dan akhirnya tembang “tidak semua laki-laki” pun mengalun hingga ketelinga Zee diseberang pulau sana, menghebohkan kos-kosanku dipagi harinya dengan cerita-cerita mistik nyanyian sumbang tengah malam. Zee yang tersenyum puas ngerjain Bejo,”Jo.. Jontoooorku makasih ya, kamu memang sahabat yang paling ngertiin aku, entah apa jadi aku tanpa kamu. Kangen ingin melihat wajah lucumu Jo secara live”, bathin Zee tersenyum sembari menutup mata.

Joeku sedang sakit di pulau Borneo sana, kata Ibunya Joe ia terkena penyakit thypus dan Hepatitis yang lumayan akut disana. Pantesan dah sekitar 8 bulan ini, aku tidak mendengar kabar darinya. Kupikir jaringan HP yang memang lemot di lokasi tugas lapanganku yang baru. Tenyata itu bukanlah salah satu alasan yang membuat akhir-akhir ini komunikasi kami terputus-putus. Oh iya, sejak hadirnya Mas Seno 3 bulan lalu ditambah kesibukan rutinitas di daerah proyek yang baru ini, menyibukkan diriku hingga aku sering lupa lupa membaginya dengan Joe saat sinyal HP mulai tertangkap jelas.

“Jontooorrr... Akhirnya telponku diangkat juga... Maafkan ya Joe, aku ingin menghubungi kamu tapi jaringan di sini memang lagi payah, semoga disana kamu baik-baik saja Sob, istirahat yang bener bilangin ma tuh perawat-perawat cantik disana kalo nda mo kena dampratku kudu meski melayani Joeku dengan baik dan benar... He3... Jontorrrrrrrr, iiihhh kangennya aku mendengar cerita-cerita lucumu lagi. Tahu nda joe aku sekarang aku lagi deket dengan seseorang namanya Mas Seno orangnya ngayomin banget, cerdas dan teman diskusi yang baik, aku.......(bla bla bla)...”, akhirnya cerita ngalor ngidul dengan joe pun berlanjut menemani perjalanan cuti ke rumah orang tuaku.

Jo yang terbaring lemah berubah semangat meski sesekali terlihat menahan perih akibat memegang HP terlalu lama, meladeni telepon Zee. Rasanya suara Zee lebih manjur dari obat-obat yang berjejer dimeja sana. Aba-aba menghentikan telepon dari seorang suster disudut kamar RS yang sebulan ini wara-wiri dikamar ini, sengaja diabaikannya hingga akhirnya tak terdengar lagi ocehan Zee. Andaikan kamu ada disini Zee, pasti penyembuhanku tidak membutuhkan waktu yang sebegini lamanya... tahukah kamu Zee setiap malam aku selalu terjaga hanya sekedar tuk melirik HPku, khawatir jangan-jangan aku sangat terlelap dan tidak menyadari masuknya telp dan SMSmu.


Sampai-sampai aku rela dimarahin dan disuntik obat tidur ma suster cantik, yang mendapatiku nekad terjaga semalaman suntuk RS tuk menjaga jangan sampai aku terlelap tidur hingga tak kudengar suara SMSmu mengucapkan selamat malam seperti kejadian 2 hari yang lalu. Ini dah bulan keempat menuju bulan kelima Zee, aku tak lagi mendengar kabarmu. Mengapa engkau sulit dihubungi Zee?? Aku kangen Zee.. kangen suaramu.. kangen olok-olokanmu.. kangen dijutek-jutekanmu.. kangen nada suara manjamu membujukku melakukan sesuatu yang konyol sekedar tuk ngerjain aku.. aku kangen melihatmu tawa dan tangismu Zee... Kamu sedang sibuk dengan Mas Senomu ya Zee?? Tahukah Zee, ceritamu tentang Mas Senomu membuat sakit yang teramat dalam Zee melebihi sakitnya fisikku saat ini.

Zee.. sungguh aku selalu ingin melihat engkau bahagia, aku ingin engkau menemukan sosok idamanmu. Zee.. Sampai kapanpun aku takkan bisa berubah menjadi sosok idaman yang sering kau katakan itu, aku tak bisa merubah diriku menjadi orang lain. Bagaimana aku akan kamu kenali kelak Zee, jika pada akhirnya aku sendiri tidak mengenali diriku sendiri jika aku memaksakan diri manjadi sosok pria impian masa kecilmu. Aku dah letih menunggu dan berharap sesuatu yang tak mungkin kuraih.

Maafkan diriku ya Zee, sebab aku memutuskan tuk menghindari telp dan smsmu, bukan karena aku marah tapi itu sengaja kulakukan karena aku ingin terlihat "sehat dan baik-baik saja" saat nanti bersua dengan dirimu lagi, aku sangat ingin terlihat sehat lahir bathin Zee. Aku ingin belajar menghilangkan kesakawanku akan hadirmu. Semoga disana Engkau bahagia Zee Iwilku sayang. Bukan karena Aku tak setia pada komitmen janjiku tuk melindungi, mencintaimu dan berada 24 jam disampingmu saat kau membutuhkan kehadiranku hingga maut memisahkan kita, yang sering kau ledek sebagai rayuan gombal anak putih abu-abu yang sedang labil, tapi karena ternyata komitmen itu takkan pernah mendapatkan persetujuan legal darimu.

(..Continued..)

copas dari lapak kakak gw karena kekurangan ide untuk menulis
*maap panjang ^^
Posted by bocah 0 comments
Powered by Blogger.