Wednesday, May 19, 2010

CINTA ADALAH PERSAHABATAN

Bejo mengepulkan asap rokoknya dalam-dalam berusaha melawan dinginnya malam ini, ada berjuta-juta kepenatan yang hendak ia keluarkan dari rongga dadanya. Rasa beberapa tahun lalu masih sama dan tak berkurang sedikitpun untuknya. Masih terbayang-bayang kejadian sore tadi dihalaman rumahnya. Sesosok wajah manis yang tak berubah sedikitpun, meski kini ia tampil lebih tenang, dan sedikit feminim dibanding biasanya mengenakan gaun terusan. Sungguh perubahan yang luar biasa, meski sikap dan candaannya tidak berubah sedikit pun. Ia terlihat penuh kasih sayang menggendong anak lelakiku yang kini berusia 6 bulan, si Juniorku pun bergelayut mesra seolah-olah tak mau lepas dari pelukannya. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Nak.. Nak.. tak diragukan lagi kamu memang Bejo Junior. Zee... kamu tetap selalu akan spesial dihatiku sampai kapan pun.

“Joooooontor, kenalkan nech Ralp pacar baruku”, teriak Zee sambil menepuk bahu Bejo tiba-tiba dengan manjanya. Sontak kaget dan hampir saja gitar yang dipegangnya jatuh menghempas aspal di depan jalan gang rumah mereka. Untung aja nda kejadian, cicilannya kan baru lunas 5 kali dari 25 kali cicilan potongan uang saku jajan dari Ibu.
“Aaa.. aaa.. Apaaaa???.... Hai, kenalkan saya Joe, anak paling ganteng di Gang sini”, jawabnya segera berusaha mengatasi kekagetanya.

“Ralipuddin.. Senang berkenalan dengan anda Joe”, balas Ralp dengan mimik khas ketegasannya dibalik wajah gantengnya yang putih bersih. Andaikan bisa serapi dan sebersih anda, bathin Joe.
“Mr. Ralp ini instruktur ditempat kursus Bahasa Inggrisku, kami baru saja jadian. Jadi maaf ya Jontor kalo baru kali aku ceritain ke kamu”, bisik Zee tiba-tiba. “Tor, mukamu kenapa merah keungu-unguan ya???.. cei cei cei yang baru abis facial, tumben nurutin saranku buat sesekali ngerawat diri”, lentingan suara Zee kemudian membahana bersama tawanya dan Mr. Ralp yang sedari tadi berusaha mempertahankan mimik tegasnya akhirnya luluh jua membaur tawa bersama Zee.

“Eh..eh.. aku baru aja dari Salon Mpok Jule, tadinya Cuma mo ngerapihin rambut, eh sama Mpoknya ditawarin facial katanya ada produk baru buat Cowok dari Korea biar putih n gantengnya nular ke aku.. he3,” balas Joe sambil melirik jam tangannya bermaksud berkaca. “Waduh, tampangku gimana sech.. koq kayaknya mengundang banget tuk orang nyela abis-abisan”, bathin Joe. Nasib.. Nasib.. Bermaksud ingin sedikit terlihat putih koq susah ya.


Zainab alias Zee adalah tetangga beberapa blok dari rumahku. Wajahnya manis, khas wajah wanita Indonesia meski berkulit sawo matang tapi kulitnya bersih terawat. Orangnya pintar, cerdas, lucu dan mandiri, meski terlihat agak sedikit tegas dan tomboy sekilas jutek. Pertama kali kenalan di rumah seorang teman satu sekolahan SMAku Adi, yang juga adik kandungnya. Usia kami memang terpaut 2 tahun, namun karena pembawaannya yang santai seolah-olah tidak membatasi ruang komunikasi kami. Keluarganya pun dah kuanggap seperti keluargaku sendiri, demikian pula sebaliknya.

Kepulan asap rokok memenuhi kamarnya, sesekali dihirupnya asap itu berharap ia masuk ke paru-parunya dan akhirnya mampu menyudahi perih hatinya yang entah kesekian kalinya teriris-iris oleh cintanya pada wanita yang bernama Zainab. Zee... mungkin kamu hanya menganggap aku tidak lebih dari seorang adik sekaligus sahabat buatmu, tapi tahukah kamu Zee selalu saja ada luka baru saat engkau punya pacar baru. Aku bahkan selalu menyelipkan doa jahatku saat mendengar cerita-cerita bahagiamu bersama lelaki lain, semoga engkau segera putus dengannya. Karena hanya saat moment seperti itulah perhatianmu kan tertuju fokus untukku saja, bahkan aku rela menabung uang jajanku dan senantiasa membawa charge HP kemana-mana sekedar tuk menjaga jangan sampai HPku lowbat saat menyambut telp dan smsmu yang hampir setiap 5 menit sekali tuk kisah tawa dan sedihmu Zee.

Zee.. masih teringat saat sosok khas tegarmu berubah melembut oleh lelehan air mata, dan akhirnya engkau letih dan menyandarkan kepalamu dibahuku. Kala engkau tahu sosok lelaki idamanmu yang sering engkau bangga-banggakan akan kecerdasannya dan kepiawaian retorikanya saat memberi pidato di depat Senat fakultasmu, berkhianat dengan teman baikmu. “Eh anak putih abu-abu, ayo cepat jemput aku. Kita ke pantai sore ini. Jangan lupa mandi dan bawa duit yang banyak ya. Aku lagi bokek tapi pengen makan bakso 3 mangkuk. Pokoknya Cabenya yang buanyaaaaaaaakkkk”, perintahmu lewat telp yang langsung kau tutup tanpa sempat kujawab. Saat kutanya mengapa engkau menangis Zee?? Kamu dengan congkaknya menjawab kalo itu bukan airmata kesedihan tapi hanya karena kepedesan saja. Ahh Zee... Zee... aku kan tahu itu hanya alibimu untuk menyembunyikan pedih hatimu dibalik pedesnya cabe, gimana nda pedes, lah 5 sendok sambel ditambah 7 cabe rawit dan sesendok teh merica. Itu namanya makan cabe plus pentolan bakso dan mi kritingnya.


Ternyata sosok tegarmu menyelimuti kerapuhan di dalam sana, Zee.. kamu tidak perlu menyembunyikan kemanjaan dan sifat kekanak-kanakanmu pada orang lain apalagi pada lelaki, kamu tahu karena itulah kalian diciptakan dari tulang rusuk kami, bukan dari tulang kepala tuk dijadikan atasan kami ataupun dari tulang kaki tuk dijadikan hamba kami tapi hawa diciptakan dari tulang rusuk adam karena wanita ada tuk sejajar dengan laki-laki. Bukan dalam artian kamu harus terlihat maskulin khas laki-laki tapi feminimlah tuk melunakkan kemaskulinan kami sehingga kekakuan kamipun mampu bergerak lentur mengimbangi. Zee.. ketahuilah dadaku kan selalu tersedia kala dirimu membutuhkan tempat tuk menangis. Tapi maafkan ya Zee, kalo ia tidak kan pernah bisa seempuk dada sobat wanitamu.

Zee.. My Iwil.. alias My Kriwil.. Aku suka membayangkan rambutmu kriwilmu yang dulu sering jadi bahan olok-olokanku. Bentuknya lucu kayak tekstur mie. Makanya sampai sekarang aku tak sanggup menahan rasa yang menggebu saat Abang bakso bolak balik menawarkan jualannya, sering keingat kamu Zee, pa lagi saat jam dah menunjukkan angka 1 di tengah siang bolong ditemani perut kosongbelum keisi apa-apa akibat isi dompet kosong abis beliin pulsa HP, buat menjawab smsmu dan telponmu. Selain kangen mo dengerin suara dan tawamu juga karena ingin menunjukkan dan ngebantah kata-katamu kalo anak putih abu-abu HPnya aja yang model terkini tapi tiap mo nelp kemana-mana yang ngejawab pasti suara cewek lembut yang sama, “Maaf.. pulsa anda tidak mencukupi tuk melakukan panggilan, segeralah.... blablabla”.. Lah koq ada ya, cewek yang sangat setia melakukan hal yang sama meski ia tahu setelahnya itu bahkan menerima banyak makian, seperti, “Kenapa diangkat mba” atau “Sialan pulsaku habis”. He3.

Zee.. Zee kelakuanmu tidak berubah sedikitpun, meski kini dah hampir 5 tahun kita bersahabat, kamu masih saja berusaha terlihat tampil kokoh terpercaya bak “semen kelas wahid” di depan keluargamu sebagai anak pertama. Selalu saja ingin tampil bak pahlawan keluarga, kuliah sambil kerjapun kau jambangi hanya ingin memperlihatkan bahwa kamu bisa meringatkan beban orang tuamu, berusaha tampil menjadi teladan bagi adik-adikmu makanya kamu selalu berusaha mencapai yang terbaik, bahkan sejak SMA pun kamu yang sering menghadiri acara pembagian raport kedua orang adik ketika ayahmu sibuk dikantor dan Ibumu sibuk melayani pesanan katering tetangga. Tahukah kamu sebenarnya bukan karena tuntutan peran sebagai anak pertama, tapi lebih karena rasa keibuanmulah yang mendorongmu menjadi seperti itu. Kelak engkau pasti menjadi seorang Ibu yang hebat Zee. Berharap akulah Bapak anak-anakmu kelak.

Kamu bahkan berusaha tegar dan tanpa airmata menasehati dan menjaga adik-adikmu agar tidak sedih terguncang oleh luka badai prahara yang tengah mengguncang pernikahan orang tuamu. Kamu berusaha menenangkan adik-adikmu saat suasana rumah berubah kisruh saat Mamamu memilih menenangkan diri pulang ke kampung Nenek yang jauh dipelosok sana saat Papamu ketahuan mencoba menjalin affair dengan wanita lain. Semenjak peristiwa “Cabe Gate” dulu, akhirnya bukan hanya bantal saja yang menjadi saksi bisu saat kau menangis, tapi kini kau sering memintaku menyediakan diri dengan pasrah, menenangkanmu saat menangis bersandar di dada non empukku ini.


Tahukah kamu Zee, kadang-kadang aku berfikir kalo sebenarnya AKU KADANG JAHAT SAMA KAMU, karena aku selalu bahagia melihatmu menangis dipelukku.. Ku bahagia bukan karena kamu terluka Zee, tapi kubahagia saat kau menangis dipeluk, karena saat itulah aku bisa menyaksikanmu menjadi diri sendiri, menjadi sosok seorang perempuan cengeng dan manja. Kamu pantas bebas menjadi dirimu sendiri Zee, bukan menjadi diri apa yang orang lain dan lingkungan sekitarmu tuntut dan inginkan, karena toh akhirnya tanggung jawab hidupmu adalah kepunyaanmu dan bukan hasil rekayasa orang lain. So be urself ya Iwilku.

Ternyata waktu tidak mengubahmu Iwilku, kamu selalu saja membuatku khawatir oleh kelakuan iseng dan nekadmu. Ingat peristiwa isengmu mencoba membuktikan hasil survey sebuah majalah wanita yang mengangkat issue bahwa mengapa begitu banyak Lelaki tidak setia?? Bahkan yang beristripun melakukan perselingkuhan?? Kamu bahkan mengadakan riset sendiri tuk mencari tahu akan hal itu. Ingat Zee, lagunya Bpk. Basofi Sudirman “Tidak Semua Laki-Laki”. Mungkin mereka hanya sebahagian kecil dari hasil survey yang diambil dari diskotik, kafe-kafe, dan tempat-tempat yang banyak godaan tuk sebuah kesetiaan dan bukan ditempat-tempat yang bijak seperti kata sebuah novel yang kemaren kubaca Zee. Masih banyak cara tuk membuktikan hasil survey itu, bukan dengan melibatkan dirimu melakukan study affair kecil-kecilan dengan lelaki beristri yang sangat memujamu yang tinggalnya di satu area tempat kos-kosanmu di sana. Zee.. aku begitu khawatir mendengar cerita-ceritamu itu, aku takut kamu kenapa-kenapa, menjadi korban keisenganmu sendiri. Kadang kamu terlalu PD dengan keberanian dan kemampuan dirimu mempertahankan diri dari serangan orang lain, tapi ingat Zee kehebatan apapun kadang kala perlu sesekali beristirahat tuk membuatnya ampuh kembali seperti sedia kala.


Untung saja malam itu kamu terbebas dari percobaan rayuan maut Bapak itu. Zee, jangan diulang lagi ya Iwilku, Toh buktinya Papamu kini kembali akur dengan Ibumu dan kembali akur seperti sedia kala. Mungkin perselingkuhan itu terjadi bukan karena semata-mata kegenitan seorang laki-laki, tapi karena saat itu ia sedang diuji keimanan, nafsu dan komitmennya atau bahkan suatu bentuk penyaluran protesnya atas peranan sang Istri yang mulai berlaku cuek, seenaknya dan dengan segudang tuntutan materi lebih kepada suami agar ia bisa tampil dengan dandanan masa kini ala ibu-ibu arisan di mall. Meski lelaki memiliki sedikit nafsu dibandingkan dengan beribu-ribu jenis nafsu wanita, tapi ketahuilah bahwa banyak lelaki yang akhirnya jatuh hancur akibat “satu nafsu yang satu itu”.

Catat ya Zee... perselingkuhan itu terjadi bukan karena adanya keinginan dari lelaki semata-mata, tapi karena adanya kesempatan yang ditawarkan pihak wanita sebahai partner selingkuhannya. Kan tidak semua wanita di luar sana juga baikkan Zee, toh banyak dari mereka yang memberikan umpannya cerdiknya dengan rayuannya tuk memancing lelaki hidung belang, semata-mata hanya karena tuntutan materi dan keduniawian. Zee.. hentikan aksimu tuk membuktikan tentang sebuah kesetiaan, karena tidak ada seorang pun yang kan tahu sampai kapan ia kan setia pada suatu komitmen apapun bahkan dirimu sendiri, karena hari esok masih sebuah misteri. Jadi biarkanlah ia tetap kan menjadi misteri hingga akhirnya terkuak jawabannya nanti. Jadi jangan bertindak mendahului ketentuan Tuhan, tuk menjudge sesuatu sebagai hal yang absolut atau pasti.

Kamu menganggukkan kepala tanda setuju, meski kadang kala engkau keras kepala terhadap sesuatu yang kamu yakini benar namun dengan penjelasan yang menurutmu bisa dipertimbangkan maka kamu tak jarang melunakkan keputusanmu. Makasih Zee telah berlaku dan bersikap apa adanya kamu didepanku. Tak seperti sikap dan ucapan yang kamu atur bak robot saat kamu berhadapan dengan pacar-pacarmu itu.


Meski akhirnya Zee dan aku berpisah tempat karena tuntutan pekerjaan, namun komunikasi dengannya selalu berlanjut melalui HP. Satu hal yang tak pernah berubah dari dulu antara Aku, Zee dan HP... Aku dan HPku : selalu saja menjaga hubungan baik jangan sampai ia lowbat atau kekurangan pulsa, Zee dan HPku : dengan bantuannya maka komunikasi antara aku dan Zee berjalan dengan baik dan lancar ... ibaratnya OPEN24hours, kapan dan dimanapun, Aku dan Zee : masih tetap berhubungan baik, masih tetap berbagi cerita, tawa dan tangis meskitak bisa lagi bertatap mata langsung.

Zee.. masih saja membagi kisah percintaannya, masih menunjukkan suara manjanya saat menggodaku, masih dengan suara tegasnya memerintahku melakukan ini dan itu untuknya. “Zee.. ini sudah jam 2 malam Iwil, masa jam segini kamu mo nyuruh aku nyanyi sambil gitaran, apa kata tetangga kamar kos2anku??... Besok aja ya, aku akan nyanyikan satu album “Tidak Semua Laki-Laki” khusus untukmu ya. Sekarang bobo sana gih, besokkan kamu mo kerja. Nanti dech aku yang telponin kamu ya”, balasku saat suara Zee kediktatorannya di HPku, memaksaku bernyanyi tuk menghibur hatinya yang sedang patah. Ah Zee.. Zee... lagi-lagi lagu lama yang diremix ulang,“Jontoooooorrrrr, jahaaaaaaaattt, kamu sama aja dengan laki-laki lain”, teriaknya dengan nada 5 oktafnya. Tuuttttttttttttt..... telpon terputus. Wuihhhhh, bakat seriosanya muncul lagi dech.


Dan akhirnya tembang “tidak semua laki-laki” pun mengalun hingga ketelinga Zee diseberang pulau sana, menghebohkan kos-kosanku dipagi harinya dengan cerita-cerita mistik nyanyian sumbang tengah malam. Zee yang tersenyum puas ngerjain Bejo,”Jo.. Jontoooorku makasih ya, kamu memang sahabat yang paling ngertiin aku, entah apa jadi aku tanpa kamu. Kangen ingin melihat wajah lucumu Jo secara live”, bathin Zee tersenyum sembari menutup mata.

Joeku sedang sakit di pulau Borneo sana, kata Ibunya Joe ia terkena penyakit thypus dan Hepatitis yang lumayan akut disana. Pantesan dah sekitar 8 bulan ini, aku tidak mendengar kabar darinya. Kupikir jaringan HP yang memang lemot di lokasi tugas lapanganku yang baru. Tenyata itu bukanlah salah satu alasan yang membuat akhir-akhir ini komunikasi kami terputus-putus. Oh iya, sejak hadirnya Mas Seno 3 bulan lalu ditambah kesibukan rutinitas di daerah proyek yang baru ini, menyibukkan diriku hingga aku sering lupa lupa membaginya dengan Joe saat sinyal HP mulai tertangkap jelas.

“Jontooorrr... Akhirnya telponku diangkat juga... Maafkan ya Joe, aku ingin menghubungi kamu tapi jaringan di sini memang lagi payah, semoga disana kamu baik-baik saja Sob, istirahat yang bener bilangin ma tuh perawat-perawat cantik disana kalo nda mo kena dampratku kudu meski melayani Joeku dengan baik dan benar... He3... Jontorrrrrrrr, iiihhh kangennya aku mendengar cerita-cerita lucumu lagi. Tahu nda joe aku sekarang aku lagi deket dengan seseorang namanya Mas Seno orangnya ngayomin banget, cerdas dan teman diskusi yang baik, aku.......(bla bla bla)...”, akhirnya cerita ngalor ngidul dengan joe pun berlanjut menemani perjalanan cuti ke rumah orang tuaku.

Jo yang terbaring lemah berubah semangat meski sesekali terlihat menahan perih akibat memegang HP terlalu lama, meladeni telepon Zee. Rasanya suara Zee lebih manjur dari obat-obat yang berjejer dimeja sana. Aba-aba menghentikan telepon dari seorang suster disudut kamar RS yang sebulan ini wara-wiri dikamar ini, sengaja diabaikannya hingga akhirnya tak terdengar lagi ocehan Zee. Andaikan kamu ada disini Zee, pasti penyembuhanku tidak membutuhkan waktu yang sebegini lamanya... tahukah kamu Zee setiap malam aku selalu terjaga hanya sekedar tuk melirik HPku, khawatir jangan-jangan aku sangat terlelap dan tidak menyadari masuknya telp dan SMSmu.


Sampai-sampai aku rela dimarahin dan disuntik obat tidur ma suster cantik, yang mendapatiku nekad terjaga semalaman suntuk RS tuk menjaga jangan sampai aku terlelap tidur hingga tak kudengar suara SMSmu mengucapkan selamat malam seperti kejadian 2 hari yang lalu. Ini dah bulan keempat menuju bulan kelima Zee, aku tak lagi mendengar kabarmu. Mengapa engkau sulit dihubungi Zee?? Aku kangen Zee.. kangen suaramu.. kangen olok-olokanmu.. kangen dijutek-jutekanmu.. kangen nada suara manjamu membujukku melakukan sesuatu yang konyol sekedar tuk ngerjain aku.. aku kangen melihatmu tawa dan tangismu Zee... Kamu sedang sibuk dengan Mas Senomu ya Zee?? Tahukah Zee, ceritamu tentang Mas Senomu membuat sakit yang teramat dalam Zee melebihi sakitnya fisikku saat ini.

Zee.. sungguh aku selalu ingin melihat engkau bahagia, aku ingin engkau menemukan sosok idamanmu. Zee.. Sampai kapanpun aku takkan bisa berubah menjadi sosok idaman yang sering kau katakan itu, aku tak bisa merubah diriku menjadi orang lain. Bagaimana aku akan kamu kenali kelak Zee, jika pada akhirnya aku sendiri tidak mengenali diriku sendiri jika aku memaksakan diri manjadi sosok pria impian masa kecilmu. Aku dah letih menunggu dan berharap sesuatu yang tak mungkin kuraih.

Maafkan diriku ya Zee, sebab aku memutuskan tuk menghindari telp dan smsmu, bukan karena aku marah tapi itu sengaja kulakukan karena aku ingin terlihat "sehat dan baik-baik saja" saat nanti bersua dengan dirimu lagi, aku sangat ingin terlihat sehat lahir bathin Zee. Aku ingin belajar menghilangkan kesakawanku akan hadirmu. Semoga disana Engkau bahagia Zee Iwilku sayang. Bukan karena Aku tak setia pada komitmen janjiku tuk melindungi, mencintaimu dan berada 24 jam disampingmu saat kau membutuhkan kehadiranku hingga maut memisahkan kita, yang sering kau ledek sebagai rayuan gombal anak putih abu-abu yang sedang labil, tapi karena ternyata komitmen itu takkan pernah mendapatkan persetujuan legal darimu.

(..Continued..)

copas dari lapak kakak gw karena kekurangan ide untuk menulis
*maap panjang ^^

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.